Generasi Milenial Selalu Merasa Kesepian, Mengapa?
Sekitar satu dari lima generasi milenial mengatakan mereka tidak punya teman, 27 persen tidak punya teman dekat, dan 30 persen tidak punya teman baik.
TRIBUN-BALI.COM - Dalam survei terbaru yang dilakukan oleh YouGov, terungkap bahwa orang dewasa muda abad ke-21 adalah generasi paling kesepian yang melampaui Generasi Baby Boomer (1940-1955) dan Generasi X (1955-1970).
Laporan itu juga menemukan, bahwa 30 persen generasi millenial selalu merasa kesepian.
Sekitar satu dari lima generasi milenial mengatakan mereka tidak punya teman, 27 persen tidak punya teman dekat, dan 30 persen tidak punya teman baik.
Jumlah ini secara signifikan lebih besar dibandingkan dengan generasi lain yang diteliti.
Dengan munculnya media sosial, perasaan ini makin meningkat.
Sebuah studi pada tahun 2018 dari University of Pennsylvania menemukan, hubungan antara waktu yang dihabiskan di media sosial dan kesejahteraan tampak rendah di antara orang-orang berusia antara 23 hingga 38 tahun.
• Gareth Bale Ancam Hengkang dari Real Madrid Gara-gara Masalah Ini
• Jelang Pilkades Serentak, Polres Banyuwangi Turunkan 3.493 Personel
Menurut Melissa Hunt, peneliti utama studi tersebut, menggunakan media sosial kurang dari satu biasanya memang menunjukkan penurunan yang signifikan dalam perasaan depresi dan kesepian.
Sementara itu, John Cacioppo mempelajari kesepian selama lebih dari 20 tahun dan dia mengatakan, bahwa perasaan tertentu dirasakan seperti isolasi sosial atau perbedaan antara apa yang diinginkan dari interaksi sosial dan konsepsi seseorang tentang hubungan tersebut.
“Efek internal seperti pikiran dan perasaan yang dipicu oleh media sosial juga dapat menjadi faktor yang bisa menyebabkan rasa isolasi yang dirasakan,” tulis Lisa Firestone PhD, psikolog klinis dan Direktur Penelitian dan Pendidikan untuk Asosiasi Glendon dalam Psychology Today.
Firestone mencatat, kemunculan teknologi telah menciptakan tempat berkembang biak bagi pemikiran yang merusak ini.
Meski orang memiliki sisi kepribadian mereka yang diarahkan pada tujuan, mereka juga memiliki sifat anti-diri yang kejam.
• Ketua DPD LVRI Bali Sebut Koruptor Harusnya Dimiskinkan dan Ditembak Mati
• Berikan Pemahaman Hukum ke Masyarakat, 7 Kabupaten/Kota Ikuti Lomba Keluarga Sadar Hukum
"Suara hati yang kritis" adalah apa yang akan dirujuk oleh ayah Firestone, Dr. Robert Firestone, yang mungkin diciptakan oleh pengalaman hidup negatif di masa lalu.
Suara hati kritis orang-orang membuat skema untuk menjauhkan mereka dari hubungan sosial dan menciptakan perasaan kesejahteraan yang rendah.
Hanya dengan menantang kritik batin dan tidak membiarkannya mendapatkan yang terbaik dari diri kita, dapat menjadi cara yang efektif untuk mengatasi perasaan kesepian dan menjadi lebih kuat.
Selain itu, Firestone mendorong orang untuk belajar bagaimana mengidentifikasi pertahanan mereka dan mengambil langkah-langkah tertentu untuk mengatasi musuh internal ini.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Mengapa Generasi Milenial Sering Merasa Kesepian?"
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ilustrasi-perempuan-kesepian-depresi.jpg)