Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

WIKI BALI

TRIBUN WIKI - Dari Mesbes Bangke hingga Gebug Ende, 6 Tradisi Ekstrem yang Ada di Bali

Dari sekian banyak tradisi yang ada, beberapa di antaranya bisa dibilang sebagai tradisi yang ekstrem.

Tayang:
Tribun Bali/Rizal Fanany
Seorang pemedek lanang menghujamkan keris di dada (ngurek) saat kerauhan dalam Upacara Pengerebongan di Pura Dalem Pengerebongan, Kesiman, Denpasar, Minggu (25/9/2016). 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Bali memang kaya dengan seni dan budaya yang adiluhung.

Setiap daerah memiliki tradisi dengan ciri khasnya masing-masing.

Dari sekian banyak tradisi yang ada, beberapa di antaranya bisa dibilang sebagai tradisi yang ekstrem.

Berikut enam tradisi ekstrem yang ada di Bali.

1. Tradisi Ngurek

Pemedek dalam keadaan kesurupan (kerahuan) mengujamkan keris di dada (ngurek) dalam tradisi Ngerebong di Pura Dalam Petilan, Kesiman, Denpasar. Minggu (2/8/2015). Tradisi Ngerebong merupakan tradisi yang dilaksanakan 6 bulan sekali setelah hari raya Kuningan.(Tribun Bali/Rizal Fanany)
Pemedek dalam keadaan kesurupan (kerahuan) mengujamkan keris di dada (ngurek) dalam tradisi Ngerebong di Pura Dalam Petilan, Kesiman, Denpasar. Minggu (2/8/2015). Tradisi Ngerebong merupakan tradisi yang dilaksanakan 6 bulan sekali setelah hari raya Kuningan.(Tribun Bali/Rizal Fanany) (Tribun Bali)

Ngurek merupakan tradisi yang ekstrem di Bali.

Tradisi ini dikenal dan dilaksanakan di hampir semua daerah di Bali, salah satunya ada pada tradisi Ngerebong di Kesiman.

Ngurek ini dilakukan oleh orang yang sedang mengalami trans lalu menusuk dirinya dengan sebilah keris.

Bagian tubuh yang ditusuk biasanya bagian dada, leher, ataupun dahi.

Namun mereka tak merasakan sakit karena dalam keadaan trans.

Grab Diduga Tersandung Perkara, Hotman Paris Ditunjuk Jadi Pengacara

Perbaiki Kabel, Listrik Dipadamkan Selama 3 Jam di Denpasar Barat 

2. Perang Pandan

Perang Pandan
Perang Pandan (Tribun Bali/Rizal Fanany)

Tradisi ini berasal dari Desa Tenganan Pengringsingan, Kecamatan Manggis, Karangasem, Bali.

Perang Pandan ini disebut dengan mekare-kare digelar sebelum prosesi ayunan. Dengan bertelanjang dada, kedua tangan mereka pun tak kosong begitu saja.

Tangan kanan menggenggam seikat daun pandan berduri, tangan kiri memegang perisai atau tameng dari rotan
Selama kurang lebih tiga menit pertandingan satu lawan satu antara para teruna desa.

Mulai dari anak-anak, pemuda dewasa, hingga orang tua bergantian turun ke arena yang dikhususkan untuk menggelar Perang Pandan.

Saling megeret tubuh lawan tandingnya, itulah yang dilakukan dalam tradisi ini.
Tampak luka-luka mengenai bagian tubuh para pemuda tersebut.

Meski terasa sakit, namun mereka melakukannya dengan sukacita.

Ritual tahunan ini sebagai bentuk simbol penghormatan kepada Dewa Indra atau Dewa Perang yang dipuja masyarakat Desa Tenganan.

Mendagri Kembali Tetapkan Banyuwangi sebagai Kabupaten Terinovatif Se-Indonesia

Waga Lampung Utara Syukuran & Merasa Merdeka Saat Bupatinya Kena OTT KPK, Ini Sikap NasDem

3. Terteran

Warga Desa Adat Jasri saat melaksanakan tradisi terteran atau perang api sehari sebleum Hari Raya Nyepi
Warga Desa Adat Jasri saat melaksanakan tradisi terteran atau perang api sehari sebleum Hari Raya Nyepi (Tribun Bali/Saiful Rohim)

Sehari sebelum pelaksanaan Hari Raya Nyepi atau pengerupukan warga Desa Adat Jasri, Kecamatan Karangasem, Bali, berkumpul di sekitar Jalan Raya Ahmad Yani.

Mereka berkumpul guna melakukan tradisi terteran atau perang api yang bermakna untuk mengusir sifat bhutakala (kejahatan).

Tradisi ini digelar setiap dua tahun sekali.

Sebelum mengelar perang api (terteran) sebagian warga Desa Jasri berkeliling disekitar Desa Jasri. Mereka mengiring bhatara yang turun (tedun) di rumah pemangku.

Usai mengiring, seluruh warga Desa Jasri langsung menggelar upacara pecaruan di sekitar Pantai Jasri (segara). Ini dilakukan guna meminta permohonan keselamatan kepada Ida Shang Hyang Widhi Wasa.

Saat pulang dari upacara pecaruan, sebagian pemedek yang datang dari arah selatan (Pantai Jasri) ditunggu sebagian warga yang berkumpul di bagian utara.

Sesampai di pertigaan Jalan Ahmad Yani, rombongan pengiring langsung dilempar dengan daun kelapa yang berisi api.

Hal ini dilakukan sebanyak tiga sesi oleh warga sekitar.

Tujuannya, agar sifat - sifat bhutakala tak ikut dibawa menuju Desanya.

Intip 3 Cara Maskapai Indonesia Menangkan Loyalitas Wisatawan Muda dari Amadeus

Sama-Sama Masuk Parit, Tabrakan Truk VS Bus di Hutan Cekik, Sopir Dapat 10 Jahitan di Kepala

4. Daratan

Sejumlah keluarga sedang melaksanakan tradisi mesuryak hingga tradisi narat di Pura Puseh Banjar Kaleran, Desa Selumbung, Kecamatan Manggis, Karangasem, Rabu (30/9). Upacara ini merupakan tradisi turun-temurun.(Tribun Bali/I Nyoman Mahayasa)
Sejumlah keluarga sedang melaksanakan tradisi mesuryak hingga tradisi narat di Pura Puseh Banjar Kaleran, Desa Selumbung, Kecamatan Manggis, Karangasem, Rabu (30/9). Upacara ini merupakan tradisi turun-temurun.(Tribun Bali/I Nyoman Mahayasa) (Tribun Bali)

Teriakan histeris saling sahut menghentak di tengah kalangan yang terletak di Jaba Tengah Pura Puseh, Desa Selumbung, Kecamatan Manggis, Karangasem, Bali.

Untuk diketahui, Desa Selumbung terletak di bawah pegunungan dan letaknya sebelum Candidasa dari arah Denpasar.

Ini adalah tradisi turun temurun yang dilaksanakan setiap upacara yang disebut Ngusaba Puseh dan bernama Daratan atau Narat.

Darah menetes dari tangan para lelaki yang ikut narat, namun tak ada rasa sakit bahkan mereka masih bersemangat untuk menebas tangannya dengan keris.

Semakin sore, suasana semakin semarak dan magis.

Teriakan demi teriakan terdengar di antara penonton dan mereka yang berteriak itu berlari ke tengah kalangan untuk narat.

Suara gong pun tak henti bertalu-talu selama daratan ini berlangsung.

Sebelum daratan ini dimulai, pukul 15.00 Wita, kentongan desa berbunyi, para lelaki datang membawa keris dan berkumpul di perempatan serta di depan Pura Desa.

Usai mebacak (mengabsen) mereka pun membuka keris dari sarungnya dan mengacung-acungkan keris tersebut menuju ke Pura Puseh.

Dan ketika rombongan warga yang mesuryak sampai di Depan Pura Puseh, beberapa orang mulai berteriak kepangluh (kerauhan). 

Keris yang dibawa oleh warga yang ikut mesuryak itulah yang dipakai narat.

Mereka yang ikut narat telah kelinggihan (atas kehendak Tuhan) sehingga tidak akan merasakan rasa sakit walaupun tubuhnya ditebas dengan keris.

Bahkan ada satu orang yang narat membawa dua keris.

Semua Anggota DPRD Gianyar Akan Kunker ke Luar Negeri, Alokasi Anggaran Naik Jadi Rp 2,4 M

Empat Bulan Warga Desa Berangbang Kekeringan, Warga Berebut Air di Pura Tangi Meyeh

5. Mesbes Bangke

tradisi mesbes bangke mencabik kain mayat di Bali
tradisi mesbes bangke mencabik kain mayat di Bali (Tribun Bali)

Mesbes Bangke yakni sebuah budaya dan tradisi yang ada di Banjar Buruan, Tampaksiring, Gianyar.

Tradisi ini memang benar-benar ekstrem dan unik dengan mencabik-cabik mayat sehingga memang terlihat mengerikan dan menyeramkan.

Jasad atau mayat seseorang yang akan dikremasi (ngaben), akan dicabik-cabik oleh warga banjar Buruan sebelum menuju tempat pembakaran mayat.

Mayat tersebut akan ditunggu oleh warga di luar pekarangan rumah, setelah mayat tersebut keluar dari pintu gerbang rumah, barulah warga mencabik-cabik mayat tersebut.

Saking bersemangatnya, bahkan ada warga sampai naik ke atas mayat yang sedang diusung.

Tradisi ini hanya berlaku untuk mereka yang ngaben sendiri (pribadi) tidak berlaku untuk ngaben masal.

6. Gebug Ende

Dua pria saling serang dalam tradisi gebug ende yang digelar di Tanjung Budaya Dalem Pemuteran, Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Bali, Selasa (25/10/2016).
Dua pria saling serang dalam tradisi gebug ende yang digelar di Tanjung Budaya Dalem Pemuteran, Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Bali, Selasa (25/10/2016). (Istimewa)

Gebug ende digelar di Desa Seraya Barat, Kecamatan Karangasem, Bali.

Tak hanya warga sekitar, dan desa tetangga yang melihat tradisi Gebug Ende.

Beberapa wisatawan luar negeri juga datang untuk menikmati tradisi yang dilakukan tiap tahun sekali oleh warga Desa Seraya Barat ini.

Mereka semua terlihat berdiri di samping panggung yang dijadikan sebagai tempat pertarungan para peserta Gebug Ende.

Bunyi gong, yang diiringi musik khas Seraya Barat terus berbunyi di sekitar panggung yang akan dijadikan sebagai ajang pertarungan Gebug Ende.

Hari Ini Otonan Bagi Mereka yang Lahir Selasa Umanis Uye, Seperti Apa Peruntungannya?

Bunyi alunan musik ini sebagai penyemangat para peserta dalam bertarung.

Tradisi Gebug Ende merupakan warisan leluhur yang sifatnya sakral.

Dalam aksinya, para peserta diadu satu lawan satu, dengan membawa alat berupa kayu rotan, dan dibekali sebuah pengaman berupa Ende.

Saat diadu, para peserta mencoba memukul sekujur badan lawan dengan keras.

Gebug Ende awalnya adalah sebuah jenis tarian yang bertujuan untuk meminta kesuburan alam atau memohon hujan. (*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved