Bali Defisit Air 18 Meter Kubik/Detik, Akademisi Usulkan Pengelolaan Lingkungan Satu Komando
Potensi air di Bali sebenarnya cukup tinggi yaitu 216,87 Meter Kubik/Detik (m3/dt). Namun yang bisa digunakan hanya 101,23 m3/dt
Penulis: Wema Satya Dinata | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR–Dosen Agroekoteknologi Fakultas Pertanian, Universitas Udayana, Ni Luh Kartini, mengatakan masalah air di Bali sudah menjadi titik nadir yang harus segera ditangani.
Potensi air di Bali sebenarnya cukup tinggi yaitu 216,87 Meter Kubik/Detik (m3/dt). Namun yang bisa digunakan hanya 101,23 m3/dt, sedangkan penggunaan air di Bali mencapai 119,96 m3/dt, sehingga Bali mengalami defisit air 18,73 m3/dt.
“Kondisi kita sekarang ini berada pada defisit atau kekurangan air 18,73 meter kubik/detik,” kata Luh Kartini dalam Symposium Suksma Bali 2019, di Gedung Wiswa Sabha Utama Kantor Gubernur Bali, Kamis (17/10/2019).
Ia menyebut ada lima sumber air di Bali, antara lain Danau Batur, Danau Beratan, Danau Bulian/Buyan, Danau Tamblingan dan Situ Yeh Malet. Kelima sumber air ini disebutnya sebagai ‘Tower Bali’ karena menyediakan air sekitar 872,68 juta m3.
• OPD di Klungkung Terima Pelatihan Terkait Kesetaraan Gender
• 4 Fakta Guru Silat Cabuli 5 Muridnya dengan Modus Pijat Peregangan Otot
“Tower ini tidak boleh hilang, kalau hilang gawat Bali ini. Pertanyaannya apakah orang Bali mau ke depan airnya tetap ada atau airnya hilang,” ujar perempuan yang meraih gelar doktor dalam bidang cacing tahun 1997 ini.
Selanjutnya, Bali juga memiliki 391 sungai, yang kondisinya 59 persen (229 sungai) hanya mengalir saat musim hujan, dan 41 persen (162) yang tetap mengalir sepanjang tahun, namun debitnya kini terus menurun.
Di sisi lain dirinya juga bersyukur karena semua sumber air Bali letaknya di atas, dan semuanya terkungkung, sehingga tidak ada sungai yang mengalir dari danau.
Semua danau merupakan hasil letusan gunung purba, kecuali Situ Yeh Malet.
Bahkan empat danau kini statusnya sudah menjadi prioritas nasional, yaitu Danau Batur ditetapkan sebagai prioritas I, sedangkan tiga lainnya menjadi prioritas II.
Terdapat 840 danau di seluruh Indonesia, dan yang masuk prioritas nasional hanya 31 danau, termasuk 4 danau di Bali.
• Hari Asuransi Sebagai Upaya Meningkatkan Penetrasi dan Literasi Asuransi di Indonesia
• Tiket Masuk DTW Tanah Lot Direncankan Akan Naik Pada 2020, Tarif Wisman Menjadi Segini
Adapun penyebab terjadinya defisit air di Bali yakni sumber-sumber air yang bermasalah, alih fungsi lahan, dan pemotongan jaringan irigasi.
Berdasarkan studi yang dilakukan menyatakan di mana daerah mengalami kekurangan air, di sanalah masyarakatnya mengalami kemiskinan dan stunting (gizi buruk).
“Kalau sudah terjadi stunting berarti Bali sudah kehilangan satu generasi,” imbuhnya.
Maka dari itu, Ekologi Bali harus dikelola dalam satu kesatuan ekosistem hulu, tengah dan hilir.
Walaupun Bali dibagi menjadi 9 kabupaten/kota seharusnya tetap pada satu komando terkait pengelolaan lingkungan.
• Pelanggan Keluhkan Air Mati Sebulan, PDAM Badung Akan Suplai Air Pakai Mobil Tangki
• ALODOKTER Punya Jaringan Lebih dari 20.000 Dokter Terima 33 Juta Dolar AS
“Kalau ini dibagi-bagi, kita akan perang karena sumber airnya ada di gunung. Jadi ini harus dikelola dari pemerintahan, ekosistemnya, dan mengelola Bali harus hati-hati sekali supaya tidak sampai kehilangan air,” tuturnya.
Walaupun air ada di Kabupaten Bangli, Tabanan, Buleleng, tetapi ia berharap agar semua pihak ikut menjaga keberadaan sumber air itu. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/dosen-agroekoteknologi-fakultas-pertanian-universitas-udayana-ni-luh-kartini.jpg)