Dieksploitasi Berlebihan, BWS Bali Penida Sebut Air Tanah di Bali Selatan Sudah Payau
“Airnya payau yang di sekitar pinggir-pinggir perhotelan itu. Airnya sudah payau tergolong. Nah ini karena pengambilan air tanah tidak terkendali,”
Penulis: I Wayan Sui Suadnyana | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Laporan Jurnalis Tribun Bali, I Wayan Sui Suadnyana
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali Penida menyebut, bahwa keberadaan air tanah di wilayah Bali selatan sudah mulai payau.
Hal itu disebabkan karena eksploitasi air tanah yang berlebihan sehingga menyebabkan adanya intrusi air laut.
“Airnya payau yang di sekitar pinggir-pinggir perhotelan itu. Airnya sudah payau tergolong. Nah ini karena pengambilan air tanah tidak terkendali,” kata Kepala Seksi (Kasi) Operasi dan Pemeliharaan BWS Bali Penida Ketut Alit Sudiastika.
Hal itu ia katakan saat ditemui di sela-sela Symposium "Menyelamatkan dan Menjaga Keberlangsungan Air Bali" di Gedung Wiswa Sabha Utama Kantor Gubernur Bali, Kamis (17/10/2019).
Namun ketika ditanya siapa pihak yang paling gencar mengeksploitasi air tanah di Bali selatan, Alit enggan menjawabnya secara gamblang.
“Saya tidak tahu, mungkin penduduk. Mungkin juga perhotelan barang kali,” kata dia.
Alit mengatakan, bahwa dirinya belum berani menyebut siapa pihak yang paling besar mengeksploitasi air tanah di Bali selatan.
• Awalnya Terlihat Engsel Pintu, Saat Dibuka Senjata Api, Begini Penjelasan Bea Cukai Ngurah Rai
• Sempat Kabur Saat Ditahan Polda Bali, WN Rusia Dituntut 10 Tahun Terkait Kepemilikan Narkotik
Sebab, saat ini ia masih meminta datanya kepada Bidang Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Dinas Tenaga Kerja dan Energi Sumber Daya Mineral Provinsi Bali.
“Jumat besok saya ke ESDM, apakah ada dari pihak perhotelan yang mengambil,” jelasnya.
Selain menyebabkan adanya intrusi air laut, Alit menyebut bahwa pengambilan air tanah secara eksploitatif juga dapat menyebabkan menurunnya permukaan tanah.
Ia mencontohkan bahwa di Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta sudah mengalami penurunan permukaan tanah ini hingga 40 cm.
“Sekarang coba ambil airnya terus, kan bisa jebol dia,” tutur Alit.
Sebelumnya di Bali yakni di Desa Taro Kabupaten Gianyar juga pernah terjadi hal yang demikian.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/gambar-eksploitasi-air-tanah-akibat-intrusi-air-laut-di-wilayah-bali-selatan.jpg)