Warga Muslim Ngayah di Pura Jelang Piodalan, Bentuk Toleransi Beragama di Desa Bukit Karangasem

Bentuk toleransi dan kebersamaan ini konon sudah ada sejak abad ke-18 yang tertulis di Piagam Pura Bukit abad 18.

Warga Muslim Ngayah di Pura Jelang Piodalan, Bentuk Toleransi Beragama di Desa Bukit Karangasem
dok. ist.
Umat Muslim di Kampung Anyar, Desa Bukit, Kecamatan Karangasem ngayah di areal Pura Bukit di Desa Bukit, Karangasem, Selasa (15/10/2019). 

TRIBUN-BALI.COM, KARANGASEM - Di atas dataran tinggi di Kecamatan Karangasem, terdapat sebuah desa yang heterogen. Desa tersebut bernama Desa Bukit.

Penduduknya sebagian besar memeluk agama Hindu, sebagian lagi memeluk agama Islam.

Keberagaman dan toleransi antar beragama dijunjung tinggi di desa ini. Kegiatan adat dan budaya sarat mengandung nilai kebersamaan.

Hal ini masih dipertahankan.

Satu di antaranya saat umat Muslim ngayah di areal Pura Bukit Kangin, Desa Bukit.

Bentuk toleransi dan kebersamaan ini konon sudah ada sejak abad ke-18. Tepatnya, setelah penaklukan Kerajaan Selaparang, Lombok, NTB oleh Kerajaan Karangasem.

Umat Muslim menyapu secara bergotongroyong di area pura saat odalan besar, seperti Karya Pujawali Bhatara Turun Kabeh.

"Seperti bulan sekarang, dari 1 Oktober sampai 18 Oktober, digelar Karya Pujawali Bhatara Turun Kabeh. Saudara Muslim pasti menyapu di area pura. Biasanya nyapu pagi hari sedari pukul 06.00-07.30 Wita hingga upacara selesai," ungkap pengurus Pura Bukit Anak Agung Ngurah Darma, Rabu (16/10/2019).

Ia mengatakan, aktivitas toleransi ini dan tertulis di Piagam Pura Bukit abad 18.

Isi piagam tersebut yakni penaklukan Kerajaan Selaparang hingga membawa enam orang penduduk Lombok ke Karangasem dan diberi tempat tinggal di Desa Bukit.

Mereka kemudian diberikan tugas oleh raja. Sebagian diberi tugas menjadi juru sapuh dan tukang pukul bende tiap Ida Bhatara tedun melasti dan mesucian.

"Adat istiadat ini sampai sekarang masih berjalan. Kadang ada beberapa masyarakat Muslim yang siaga di area pura mengantisipasi sampah membludak. Semoga terus dipertahankan dan dilestarikan warga," ujarnya.

Tradisi ini adalah satu bentuk keberagaman dan toleransi beragama yang ada di Bali. Ia juga meminta agar budaya ini tak dirusak.

Selain menyapu pura, masih banyak aktivitas adat di Desa Bukit yang mengedepankaan keberagaman dan kebersamaan. (*)

Penulis: Saiful Rohim
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved