Produksi Garam Tradisional Kusamba Mati Suri; Kerjanya Berat, Harganya Murah

Selain karena ladang penggaraman yang sudah tergerus abrasi, harga di pasaran juga belum berpihak pada pembuat garam tradisional ini.

Produksi Garam Tradisional Kusamba Mati Suri; Kerjanya Berat, Harganya Murah
Tribun Bali/Eka Mita Suputra
Warga sedang membuat garam secara tradisional di pesisir Pantai Karangdadi, Desa Kusamba, Klungkung, Jumat (18/10/2019). 

TRIBUN-BALI.COM, KLUNGKUNG - I Dewa Candra (59) sedang membuat garam tradisional di pesisir Pantai Karangdadi, Desa Kusamba, Klungkung, Jumat (18/10/2019).

Panas yang menyengat seperti saat ini justru dimanfaatkannya untuk memproduksi garam berkualitas bagus.

"Kalau panas seperti saat ini, garam yang dihasilkan justru bagus. Produksinya juga bisa lebih banyak, hanya saja harganya di pasaran rawan jeblok," ujar pria yang sudah puluhan tahun melakoni pekerjaan sebagai pembuat garam tradisional tersebut.

Meski demikian, warga yang membuat garam tradisional di Kusamba semakin hari semakin sedikit.

Padahal selama ini, garam tradisional Kusamba dikenal dengan kualitasnya yang sangat baik.

Selain karena ladang penggaraman yang sudah tergerus abrasi, harga di pasaran juga belum berpihak pada pembuat garam tradisional ini.

"Kerjaannya berat, sangat tergantung dengan cuaca. Sementara harga jualnya murah, inilah yang membuat banyak petani garam beralih pekerjaan. Belum lagi ladang penggaraman sudah tergerus abrasi," jelasnya.

Pemerintah telah berupaya untuk meningkatkan nilai ekonomis  garam Kusamba dengan mengolahnya menjadi garam beryodium.

Selain itu, Badan Ekonomi Kreatif juga memberikan sertifikat Indikasi Geogafis Garam Kusamba untuk melindungi komoditi andalan Desa Kusamba ini.

Bupati Klungkung, I Nyoman Suwirta menjelaskan, sejak dulu Garam Kusamba sudah dikenal secara luas.

Halaman
123
Penulis: Eka Mita Suputra
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved