Kecanduan Gadget, Dokter Lely Ungkap Kasus yang Ditemui dari Depresi hingga Bunuh Diri

Di Bali ini, saya menemukan bahwa dari usia SD, SMP, dan SMA itu mereka sampai tidak mau sekolah, hari-harinya hanya diisi dengan bermain gadget.

Kecanduan Gadget, Dokter Lely Ungkap Kasus yang Ditemui dari Depresi hingga Bunuh Diri
Tribun Bali/Noviana Windri
dr. Lely Setyawati., Sp.KJ (K) saat ditemui dalam acara Hari Kesehatan Mental Dunia 2019 di Ibis Hotel, Jalan Teuku Umar, Denpasar, Jumat (19/10/2019) 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Noviana Windri Rahmawati

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR -Saat ini gadget atau gawai merupakan kebutuhan yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-hari.

Tak hanya orang dewasa, anak-anak juga tidak bisa terlepas dari alat ini hingga menyebabkan kecanduan.

Meskipun orangtua tahu bahwa gawai menimbulkan dampak negatif, secara sadar orang tua juga memberikan gawai dan tidak sedikit yang menjadikannya sebagai pola asuh.

Dampak negatif yang diberikan akibat kecanduan gawai pun sangat beragam, misalnya anti sosial, mogok sekolah bahkan ada yang mengalami gangguan jiwa.

Seorang dokter ahli jiwa di RSUP Sanglah, dr. Lely Setyawati., Sp.KJ (K) menjelaskan bahwa kecanduan gawai pada anak usia SD, SMP, dan SMA bisa menyebabkan anak mogok sekolah, lupa waktu hingga bunuh diri.

RSUP Sanglah Mulang Pekalem di Pantai Mertasari

HUT Ke-74 Zeni Angkatan Darat Wujudkan “Yudha Karya Satya Bhakti” 

"Di Bali ini, saya menemukan bahwa dari usia SD, SMP, dan SMA itu mereka sampai tidak mau sekolah, hari-harinya hanya diisi dengan bermain gadget. Ada juga yang sampai depresi, gangguan jiwa berat atau gila dan ada yang ingin bunuh diri," ungkapnya, Sabtu (19/10/2019).

Lebih lanjut, Leli mengatakan dampak negatif seperti yang sudah disebutkan di atas diakibatkan dari kecanduan game.

Bahkan, kecenderungan terprovokasi oleh game yang mengandung unsur kekerasan.

"Kalau untuk anak-anak, orangtuanya masih bisa menanggung memperhatikan di rumah. Kita lebih menyarankan hanya boleh rawat jalan. Datang seminggu sekali di poliklinik. Jika orangtuanya tidak mengatasi karena ditakutkan mencederai, lari, atau lompat pagar jadi kita rawat di rumah sakit," tambahnya.

Halaman
12
Penulis: Noviana Windri
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved