Gula Merah Dawan Tersohor dengan Cita Rasanya, Banyak yang Oplosan di Pasaran

Bahkan kelezatan dan kualitas gula merah buatan warga di Banjar Kawan, Desa Besan ini sudah sangat terkenal dan tersohor di Bali

Penulis: Eka Mita Suputra | Editor: Widyartha Suryawan
Tribun Bali/Eka Mita Suputra
Nyoman Surati dan suaminya Komang Surna, menunjukkan gula merah khas buatan warga Desa Besan, Klungkung. 

TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA - Jika berbicara tentang gula merah di Bali, tentu yang paling terkenal adalah gula merah khas Dawan.

Sentra pembuatan gula merah khas dawan ini, sebagiannya diproduksi oleh warga di Banjar Kawan, Desa Besan, Kecamatan Dawan, Klungkung.

Bahkan kelezatan dan kualitas gula merah buatan warga di Banjar Kawan, Desa Besan ini sudah sangat terkenal dan tersohor di  Bali.

Asap pekat mengepul dari dapur milik Nyoman Surati (50) di Banjar Kawan, Desa Besan, Dawan, Klungkung, Selasa (22/10/2019).

Ia rehat sejenak, setelah seharian berkutat di dapur membuat gula merah yang menjadi komoditi khas dari Desa Besan.

Di dapur sederhananya, Surati seharian memasak  tuak manis (nira hasil sadapan pohon kelapa) yang akan ia olah menjadi gula merah khas Besan yang  sudah sangat terkenal di Bali.

Sedari kecil, ia dan warga lainnya di Banjar Kawan mengais rezeki dengan membuat gula merah.

"Pembuatan gula merah di sini sudah secara turun-menurun, semuanya masih memakai cara tradisional," ujar Surati.

Nyoman Surati dan suaminya Komang Surna, membuat gula merah khas buatan warga desa Besan, Klungkung.
Nyoman Surati dan suaminya Komang Surna, membuat gula merah khas buatan warga desa Besan, Klungkung. (Tribun Bali/Eka Mita Suputra)

Dalam memproduksi gula merah, ia dibantu suaminya, I Komang Surna (49).

I Komang Surna bertugas menyadap nira kelapa setiap harinya. Ia berangkat ke ladang, dan memanjat sampai 15 pohon kelapa setiap paginya.

"Tuak (nira kelapa) inilah, yang nanti menjadi bahan baku gula merah," ungkap Surati.

Kualitas dan kuantitas gula merah sangat ditentukan nira hasil sadapan.

Jika cuaca mendukung, hasil nira akan melimpah. Sehingga produksi bisa lebih banyak dan kualitas gulanya baik.

Nira kelapa itu lalu dimasak, menggunakan api yang dari kayu bakar.

Lalu setelah itu, nira ini dicetak dengan menggunakan tempurung kelapa.

Semua dilakukan secara tradisional, untuk tetap menjaga kualitas dan citarasa.

Gula merah yang diproduksi warga di Banjar Kawan sangat khas dengan memiliki tekstur lembut, lunak dan terkenal dengan rasa manisnya yang khas.

Dari segi warna,  merah khas Dawan berwarna lebih coklat kekuningan.

Harga gula merah khas Dawan ini dijual Rp 20 ribu sampai Rp 25 ribu perkilogram.

Namun saat ini di pasaran beredar gula khas dawan oplosan, yang merusak harga pasar.

Pihak-pihak tidak bertanggung jawab, memanfaatkan kemasyuran nama gula merah khas warga di Desa Besan Dawan.

Mereka mendatangkan gula aren dari luar Bali yang berbentuk silinder. Lalu gula itu dimasak kembali, dan dicetak hingga bentuknya sangat menyerupai gula merah khas Dawan.

Saat dijual pun, gula oplosan itu menggunakan embel-embel gula merah khas Dawan.  

Tersisa 15 KK
Perbekel Besan Ketut Yasa mengatakan, warga di Banjar Kawan, Desa Besan berjumlah 50 KK.

Namun  hingga saat ini hanya tersisa 15 KK pembuat gula merah yang masih bertahan di Desa Besan.

Jika dibandingkan dahulu, jumlah ini jauh menyusut. Karena dulu hampir setiap KK memproduksi gula merah.

"Kendalanya sekarang, sudah tidak banyak yang bisa memanjat pohon kelapa untuk menyadap nira kelapa," ungkap Yasa

Sebelumnya pembuat gula merah ini sempat membentuk kelompok, tapi seiring berjalannya waktu anggotanya kian menyusut.

Padahal, dikatakan sering mendapat pembinaan dari Pemkab Klungkung

"Sekarang perajin gula merah berjalan sendiri-sendiri. Peroduk mereka juga sudah sangat terkenal dengan kelezatannya," ungkap Wayan Yasa. (*)

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved