Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Suhu Tertinggi di Bali Pernah Capai 35 Derajat Celcius, Belum Pernah Alami Gelombang Panas

Di Bali hingga saat ini suhu tertinggi pernah terjadi pada 11 dan 22 Oktober 2019 di Kota Denpasar, tepatnya di wilayah Sanglah.

Penulis: I Wayan Sui Suadnyana | Editor: Meika Pestaria Tumanggor
Shutterstock
Ilustrasi 

Laporan Jurnalis Tribun Bali, I Wayan Sui Suadnyana

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Beredarnya kabar yang mengatakan bahwa Indonesia saat ini sedang mengalami gelombang panas nyatanya hanya kabar burung semata.

Hal itu ditampik langsung oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Suhu di Indonesia, termasuk Bali belum pernah mencapai angka 40 derajat Celcius, melainkan baru mencapai titik tertinggi sebesar 39,5 derajat Celcius pada 2015 di Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah.

Di Bali sendiri hingga saat ini suhu tertinggi pernah terjadi pada 11 dan 22 Oktober 2019 di Kota Denpasar, tepatnya di wilayah Sanglah yang mencapai 35 derajat Celcius.

"Namun hal ini tidak masuk dalam kategori ekstrem, karena sebelumnya pernah juga suhu mencapai 34.9 derajat," kata Kepala Bidang Data dan Informasi Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar Iman Faturahman, Kamis (24/10/2019).

Sejarah Indonesia di Piala Dunia U20, Pernah Dibantai Argentina, Ada Nama Diego Maradona

Hari Ini Harga Emas Antam Rp 761.000 Per Gram

Menurutnya, suhu 35 derajat Celcius yang pernah terjadi di Sanglah itu tidak secara terus-menerus meningkat, melainkan bersifat fluktuatif.

Hal ini tergantung dari kondisi awan yang terbentuk di langit. Jika sinar matahari terhalang oleh awan maka dapat mengurangi radiasi panas matahari.

Menurutnya, suhu tersebut belum termasuk dalam kategori ekstrem, karena yang bisa disebut suhu ekstrem mempunyai perbedaan lebih tinggi sebanyak tiga derajat dari suhu tertinggi yang pernah terukur.

"Belum pernah terjadi (gelombang panas). Cuma gelombang panas itu memang salah satu suhu ekstrem juga. Kan bisa menimbulkan kematian juga," jelasnya.

Dijelaskan olehnya, suhu merupakan catatan berdasarkan alat pengukur dari BMKG yang didapat di tempat observasi.

Tito Karnavian Cerita Detik-detik Lepas Jabatan Kapolri, Emban Tugas Baru Menteri Dalam Negeri

CEO Brand Kosmetik hingga Aktif Kegiatan Sosial, Ini Sosok Franka Franklin Istri Nadiem Makarim

Jika saat matahari tidak tertutup oleh awan maka radiasi panasnya akan lebih banyak.

Sehingga, kata dia, suhu yang terukur oleh alat sesuai dengan pancaran radiasi dari panas matahari.

Sedangkan kalau gelombang panas bisa bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain atau dibawa dari lingkungan lain ke lingkungan baru.

"Itu gelombang panas, dia bergerak. Kalau ini (suhu) kan enggak, dia terbentuk di situ karena pemanasan dari matahari," tuturnya.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved