Antara Kesehatan dan Hiburan, Mana yang Lebih Penting?
Belakangan ini saya lebih sering melihat orang makan dan minum sebagai sarana ‘rekreasi’.
TRIBUN-BALI.COM - Tulisan ini dibuat bukan untuk membahas soal iuran BPJS yang akan melonjak dua kali lipat mulai tahun depan - yang menuai kontroversi, karena dijadikan kewajiban bagi seluruh WNI – sebab jika tidak ikut sebagai peserta atau menunggak, maka ada ancaman tak akan dapat mengurus SIM hingga paspor.
Hal menarik untuk dibahas bukan soal itu, melainkan tentang cara pandang publik Indonesia akan kesehatan yang kelihatannya belum beringsut apalagi berubah sejak zaman kemerdekaan.
Saat keluhan sakit belum muncul, sebagian besar orang Indonesia mengatakan dirinya ‘sehat’.
Begitu pula ibu hamil, selama tidak muntah berlebihan, tidak pingsan, tidak ada bercak darah yang keluar, dianggap ‘sehat-sehat saja’ tanpa harus memeriksakan kandungannya.
Bahkan kaki bengkak pada masa kehamilan, dianggap sebagai fenomena wajar – sampai menjelang masa persalinan baru ketahuan bahwa sang ibu menderita pre eklampsia dengan tekanan darah tidak terkontrol.
Kita belum sampai pada kebiasaan ‘sedia payung sebelum hujan’ untuk urusan kesehatan.
• Inilah 3 Kesalahan Fatal Pemegang Kartu Kredit yang Sangat Merugikan
• Kakek 78 Tahun Ini Menolak Rp 10 Miliar Demi Menjaga Hutan Saya Menyiapkan Oksigen Bagi Masyarakat
Paling-paling menyiapkan kotak P3K berisi obat pusing, flu, diare, beberapa jenis salep dan plester, perban serta antiseptik buat luka ringan.
Pola pikir seperti ini bukan hanya pada level rumah tangga, juga masih dianut petinggi beberapa perusahaan yang sudah punya klinik dengan perawat dan dokter.
Tenaga kesehatan di korporasi kerap terjepit antara kepentingan pemilik usaha yang ingin sebisa mungkin menghemat biaya kesehatan karyawan, sementara karyawannya menganut faham ‘aji mumpung’ berobat gratis dibayari tempatnya bekerja.
Beberapa kali saya diundang untuk mengisi seminar di korporasi yang bermaksud hendak meningkatkan kesadaran hidup sehat mulai dari jajaran direksi, staf hingga karyawan lepas.
Anehnya, kebanyakan orang berpikir, hanya dengan mendengar seminar satu kali lalu seakan-akan pesertanya semua tersadarkan dan langsung pulang ke rumah masak makanan sehat dan mulai berolahraga.
Padahal, makan siang yang dihidangkan sehabis seminar saja masih jauh dari kata sehat.
Petinggi korporasi mengandaikan dengan membuat satu kali seminar, lalu tuntaslah tanggung jawab perusahaan untuk urusan promotif dan preventif penyakit seram-seram mulai dari stroke, kanker, gagal ginjal, dan serangan jantung.
• TRIBUN WIKI - Terdapat Gambar Gunung Agung, Ini Logo Gumi Lahar Kabupaten Karangasem
• Seusai Temu Mesra Dengan PKS, Nasdem Kini Berencana Sowan ke PAN dan Demokrat
Lebih konyol lagi, pengandaian ditambah dengan pertimbangan agar peserta tidak mengantuk dan bosan, maka selain narasumber kesehatan dihadirkan pula artis top – yang bukan hanya bikin gaduh, tapi justru membuyarkan fokus bahasan.
Di atas itu semua, yang lebih menyakitkan hati, honor si artis bisa lima hingga sepuluh kali lipat lebih besar dari uang jasa yang dikeluarkan untuk narasumber utamanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ilustrasi-kolesterol-1.jpg)