Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Antara Kesehatan dan Hiburan, Mana yang Lebih Penting?

Belakangan ini saya lebih sering melihat orang makan dan minum sebagai sarana ‘rekreasi’.

pixabay.com
Ilustrasi makanan yang mengandung kolesterol. 

Kembali ke level rumah tangga, fenomena serupa terjadi. Uang yang dihabiskan untuk rekreasi dan hiburan (termasuk rokok – karena hanya untuk pemuasan kecanduan individual) jauh lebih besar ketimbang biaya membuat tubuh tetap sehat.

Biaya makan dan minum tidak bisa dikategorikan untuk memelihara tubuh, jika yang dimakan dan diminum justru akhirnya akan menjerumuskan diri ke dalam cengkraman penyakit yang tidak langsung muncul.

Belakangan ini saya lebih sering melihat orang makan dan minum sebagai sarana ‘rekreasi’.

Ada kepuasan dan kebanggaan sekaligus saat orang bisa membeli makanan dan minuman yang sedang tren dan ‘hits’ – seakan-akan ia masuk dalam ‘kelompok itu’.

Remaja dan golongan milenial kebetulan mempunyai dahaga dan keharusan untuk bisa diterima eksistensinya – di mana eksistensi itu muncul dengan berbagai jenis barang konsumsi sebagai simbol.

Menjelang Wafatnya Bu Tien, 3 Peristiwa Tak Biasa Ini Menimpa Soeharto

6 Pemain Kunci Bali United Terancam Bakal Absen Lawan PSS Sleman, Ini Daftarnya

Barang konsumsi yang paling murah sekaligus mudah didapat, tentunya adalah makanan dan minuman.

Jika dihitung-hitung, berbagai cara untuk merekreasikan diri apabila dijumlah dalam satu kurun waktu, mungkin bisa dijadikan uang muka rumah masa depan.

Sayangnya, sudah habis terkonsumsi yang ujung-ujungnya bahkan membuat konsumennya harus bayar dobel: karena rekreasi yang salah berakibat masalah kesehatan.

Belum lagi jika rekreasi yang salah itu memberi dampak adiksi. Di mana adiksi tidak bisa dihabisi hanya lewat ceramah dan seminar.

Adiksi tidak selalu berupa narkoba, tapi kebiasaan baru yang menagih – setiap pulang kantor harus mampir beli minuman yang di zaman orang tuanya saja tidak dikenal.

Tidak jelas isinya apa, pokoknya enak.

Lama-lama semua minuman yang wajar untuk tubuh seperti air dan teh tawar atau air kelapa malah terasa tidak enak – tepatnya kurang manis.

Begitu pula dengan sekantong gorengan kekinian, dijual di mal, waralaba negeri seberang.

Sedikit ‘lebih naik kasta’ ketimbang yang dijual di pinggir jalan dengan minyak curah yang berasal dari selokan, menurut salah seorang mantan menteri.

Sementara itu, kebutuhan nutrisi sesungguhnya ‘dihutang’ terus, sampai suatu saat tubuh menagih dengan cara yang tidak menyenangkan: mulai dari gangguan konsentrasi, mengantuk, mudah sakit kepala, hingga kelebihan lingkar perut yang membuat pilihan model baju jadi terbatas.

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved