Dampak Kenaikan Iuran BPJS, Pasien Kelas III Diprediksi Bakal Membeludak

Kemungkinan membeludaknya pasien kelas III ini harus diantisipasi. Dampak dari peserta mandiri ramai turun kelas pasca penyesuaian tarif iuran.

Dampak Kenaikan Iuran BPJS, Pasien Kelas III Diprediksi Bakal Membeludak
Tribun Bali / Eka Mita Suputra
Kondisi di ruang perawatan kelas III RSUD Klungkung, Selasa (5/11). Tampak hanya ada satu pasien di ruangan tersebut. 

TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA - Maraknya warga yang turun kelas kepesertaan BPJS Kesehatan mandiri disinyalir akan berdampak langsung terhadap ketersediaan tempat tidur rawat inap kelas III di sejumlah fasilitas kesehatan (faskes). Pengaruh paling signifikan, diperkirakan akan terjadi pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) seperti puskesmas dan rumah sakit rujukan Tipe C.

Menjelang diberlakukannya penyesuaian tarif iuran BPJS Kesehatan awal tahun depan, para peserta mandiri mulai ramai turun ke kelas III. Hal ini pun disinyalir akan berdampak semakin membeludaknya pasien di ruang perawatan kelas III. Apa lagi saat ini ketersediaan tempat tidur untuk pasien kelas III di FKTP dan rumah sakit Tipe C cukup terbatas.

Humas RSUD Klungkung, I Gusti Putu Widiyasa mengungkapkan, hal tersebut malah tidak berpengaruh signifikan di RSUD Klungkung. Sebab saat ini RSUD Klungkung sudah Tipe B dan sifatnya hanya menunggu rujukan pasien dari RS Tipe C.

"Saya rasa pengaruh masyarakat turun kelas ke kelas III, tidak terlalu signifikan ke RSUD Klungkung. Dalam sistem BPJS, kami kan sifatnya hanya menerima rujukan," ungkapnya, Selasa (5/11/2019).

Ia memperkirakan, penambahan beban akan terjadi pada FKTP seperti puskesmas termasuk rumah sakit Tipe C yang saat ini hanya ada dua di Klungkung. "Justru dengan situasi saat ini, yang tambah beban kemungkinan puskesmas dan rumah sakit Tipe C," jelasnya.

Khususnya di RSUD Klungkung, pihaknya menjamin kapasitas ruangan Kelas III masih mencukupi. Saat ini total kapasitas tempat tdur rawat inap di RSUD Klungkung berjumlah 142. Jumlah itu masih dianggap mencukupi, untuk memberikan pelayanan rawat inap kepada pasien yang dirujuk ke RSUD Klungkung.

Ketua Komisi III DPRD Klungkung, I Wayan Mardana menjelaskan, fenomena masyarakat ramai-ramai turun kelas kepesertaan BPJS Kesehatan harus mendapatkan perhatian khusus. Jangan sampai ada kejadian, faskes 'mempimpong' atau bahkan menolak pasien dengan alasan ruang perawatan kelas III kosong.

"Kemungkinan membeludaknya pasien kelas III ini harus diantisipasi. Dampak dari peserta mandiri ramai turun kelas pasca penyesuaian tarif iuran. Rumah sakit intinya tidak boleh menolak pasien," ungkap Politisi asal Desa Gunaksa ini.

Ia juga berharap ke depannya faskes tidak terlampau kaku dalam menjalankan aturan. Terlebih rumah sakit lebih pada itansi yang menjalankan misi kemanusiaan. Jika ruang kelas III penuh, faskes tetap memberikan ruang untuk pasien kelas III mendapatkan perawatan di kelas lainnya. Kepala Dinas Kesehatan Klungkung, dr Adi Swapatni belum bisa dimintai konfirmasinya terkait hal ini. 

Jangan Sampai Ganggu Pelayanan 

Dewan mendukung rencana Pemkab Klungkung untuk menjadikan pukesmas sebagai faskes Tipe C. Ketua Komisi III DPRD Klungkung Wayan Mardana mengatakan, saat ini ada beberapa rumah sakit Tipe C di Klungkung dan itupun rumah sakit swasta. "Ini agar dana kapitasi BPJS juga maksimal masuk ke pemkab," ungkap Mardana.

Jika aturan memungkinkan, ia pun mendorong langkah pemkab tersebut. Terlebih saat ini, faskes Tipe C perlu menambah lagi kapasitas ruang perawatan kelas III. "Kami segera menggelar rapat kerja dengan RSUD, Dinkes dan BPJS untuk membahas pengaruh warga turun kelas ini terhadap ketersediaan ruang rawat inap kelas III. Jangan sampai ini justru membuat warga mendapatkan pelayanan kesehatan yang tidak memadai," kata dia. (*)

Penulis: Eka Mita Suputra
Editor: I Putu Darmendra
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved