Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Banyuwangi

Peringatan Maulid Nabi di Banyuwangi, Ribuan Telur Diarak dari Lima Penjuru

Setiap peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, warga Banyuwangi menggelar tradisi Endog-endogan

Editor: Irma Budiarti
Surya/Haorrahman
Setiap peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, warga Banyuwangi menggelar tradisi Endog-endogan. Peringatan Maulid Nabi di Banyuwangi, Ribuan Telur Diarak dari Lima Penjuru 

Hadir dalam acara tersebut, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Wabup Yusuf Widyatmoko, dan jajaran Forpimda lainnya.

Bupati Anas mengatakan tradisi Endhog-endhogan merupakan salah satu cara masyarakat Banyuwangi memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Bila biasanya digelar di jalanan kota, tahun ini dipusatkan di Masjid Agung Baiturrahman.

“Tahun ini kami pusatkan di masjid besar karena sebagai simbol persatuan ulama dan umaro (pemimpin). Kami ingin Banyuwangi ke depannya terus menjadi daerah yang maju sekaligus terjaga kesholihan sosialnya dengan  tuntunan dari para ulama daerah,” kata Anas.

"Tidak hanya digelar meriah yang berpusat di Masjid Agung,  tapi juga dilaksanakan serentak di setiap masjid di 25 kecamatan se-Banyuwangi," imbuhnya.

Ada filosofi yang terkandung dalam tradisi Endhog-endhogan ini.

Telur sebagai simbol terdiri dari tiga lapis, yakni kulit, putih telur dan kuning telur.

Kulit telur diibaratkan sebagai lambang keislaman sebagai identitas seorang muslim.

Liverpool vs Man City, Peluang Dejan Lovren Jadi Andalan The Reds di Lini Belakang

Pendaftaran CPNS Melalui Website Dibuka Senin Esok, Bagaimana Alurnya, Selengkapnya di Sini

Putih telur, melambangkan keimanan, yang berarti seorang yang beragama Islam harus memiliki keimanan yakni memercayai dan melaksanakan perintah Allah SWT.

Lalu kuning telur melambangkan keihsanan, memasrahkan diri dan ikhlas dengan semua ketentuan Allah SWT.

“Islam, Iman dan Ihsan adalah harmonisasi risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW yang jika ditancapkan pada diri manusia akan menghasilkan manusia yang mencerminkan akhlak Rasulullah. Inilah makna Festival Endhog-endhogan agar kita selalu ingat dan menjalankan tuntunan nabi,” terang Anas.

Ditambahkan dia, Festival Endhog-endhogan merupakan sebuah syiar Islam yang sarat dengan nilai dan kearifan lokal.

Dalam tradisi terkandung pula semangat gotong royong dan saling tolong antar sesama. 

“Kegiatan ini juga untuk mempererat silaturahmi. Kami dan warga berkumpul, lalu makan bareng memakai ancak (nampan dari daun pisang-red). Ini adalah nilai-nilai kebersamaan yang perlu kita jaga dengan baik,” ujar Anas. 

Dalam peringatan tersebut, juga diisi tausiah agama dari KH Ali Makki, Ketua PC NU Banyuwangi.

Sumber: Surya
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved