Dharma Wacana

Agama Hadir sebagai Alunan Merdu

Berbicara masalah intoleran, memang sesuatu yang kurang enak dalam interaksi sosial. Padahal, negara ini dibangun oleh yang bersifat heterogen,

Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Ady Sucipto

Oleh Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda

TRIBUN-BALI.COM, -- Berbicara masalah intoleran, memang sesuatu yang kurang enak dalam interaksi sosial.

Padahal, negara ini dibangun oleh yang bersifat heterogen, dari berbagai suku hingga ideologi.

Namun seiring berjalannya waktu, terjadi politisasi di wilayah agama atau terjadi agamisasi di wilayah politik, maka terjadilah keberagamaan yang eklusif, mengganggap dirinya paling benar.

Dalam intoleran, ada sebuah teosentimen atau sentimen kepercayaan.

Kalau kita melihat sejarah, negara Indonesia ini tidak dibangun oleh satu penganut agama, tapi ada penganut agama lain.

Sebenarnya negara sudah sangat bijak berbicara mengenai agama, dengan menempatkan ideologi sebagai asas tunggal.

Menyangkut masalah keberagamaan, negara sudah memberikan jaminan dalam sila Ketuhanan Yang Maha Esa.

Negara menjadikan rakyatnya beragama menurut kepercayaannya, dan menjamin kebebasan bersembahyang.

Tapi kenyataanya, belakangan ini mulai tidak enak didengar.

Bahkan untuk bersembahyang harus minta izin sampai ke Pemerintah Provinsi.

Kalau sembahyang, kan tidak perlu minta izin. Persembahyangan itu adalah hubungan yang sangat hakiki antara manusia dengan Tuhan.

Kemarin saya memimpin upacara di Pura Pegatepan (Pasek Gelgel), Klungkung. Di sebelah timur pura ada masjid.

Masjid melaksanakan kegiatannya, kita juga melaksanakan kegiatan kita. Tidak ada yang dihentikan.

Sebab bagi kita, urusan ketuhanan adalah urusan yang sangat pribadi.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved