20 Warga Bali Transmigrasi ke Sumba, Kelola Tanah Masing-masing 3 Hektar dan Diberikan Rumah

20 Warga Bali Transmigrasi ke Sumba, Kelola Tanah Masing-masing 3 Hektar dan Diberikan Rumah

20 Warga Bali Transmigrasi ke Sumba, Kelola Tanah Masing-masing 3 Hektar dan Diberikan Rumah
Tribun Bali/Ratu Ayu Astri Desiani
Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Buleleng, Ni Made Dwi Priyanti Putri Koriawan 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA- Sebanyak 20 warga yang terdiri dari lima Kepala Keluarga (KK) asal Buleleng, mengikuti program transmigran ke Kota Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Mereka rencananya berangkat ke Waingapu pada Senin (25/11/2019) menggunakan pesawat, yang didanai oleh pemerintah.

Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Buleleng, Ni Made Dwi Priyanti Putri Koriawan ditemui Rabu (20/11/2019) mengatakan, para transmigran yang berangkat ini sebelumnya sudah diberikan pelatihan dasar umum selama satu minggu di Balai Latihan Transmigrasi Denpasar.

Sehari sebelum diberangkatkan, atau pada Minggu (24/11/2019) mereka juga akan mengikuti pemeriksaan kesehatan di Denpasar, hingga selanjutnya pada Senin (25/11/2019), seluruh transmigrasi dilepas oleh Gubernur Bali Wayan Koster, dan diberangkatkan melalui Bandara I Gusti Ngurah Rai, menuju Kota Waingapu.

Di Waingapu, para transmigran asal Buleleng diberikan tanah seluas kurang lebih tiga hektar, untuk membuat perkebunan tebu.

Melalui Bumdes, hasil tebu kemudian dijual kepada salah satu pabrik gula yang ada di wilayah tersebut.

"Bumdesnya sudah membuat MoU, bekerjasama dengan pabrik gula yang ada di sana," terangnya.

Selain lahan, para transmigran juga diberikan rumah tipe 36, lengkap dengan panel surya.

"Lokasinya tidak jauh dari bandara Waingapu. Sudah dibuatkan jalan lebar, masing-masing rumah sudah tersedia panel suryanya. Mereka nanti akan tinggal dalam satu kompleks, seperti BTN," jelasnya.

Sementara Bupati Buleleng, Putu Agus Suradnyana berpesan kepada para transmigran agar segera melapor kepada aparat pemerintah yang ada di wilayah tersebut, bila terjadi masalah yang sulit untuk dipecahkan.

"Jaga nama baik Buleleng. Gunakan kesempatan ini sebaik-baiknya. Kebiasaan buruk yang di lakukan di Bali jangan dikembangkan di daerah baru. Kelola dengan baik lahan yang diberikan," ucapnya. (*)

Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved