Punya 3 Buku Berbahasa Bali, Bekerja di Kapal Pesiar Alit Juliartha Tetap Berkarya dengan Bahasa Ibu

I Komang Alit Juliartha tetap bisa berkarya menggunakan dengan bahasa ibunya di tanah yang jauh. ia tetap menulis dalam Bahasa Bali.

Punya 3 Buku Berbahasa Bali, Bekerja di Kapal Pesiar Alit Juliartha Tetap Berkarya dengan Bahasa Ibu
Dok. pribadi
I Komang Alit Juliartha dengan buku barunya 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Bekerja di tempat yang jauh dari kampung halaman, tak serta merta membuat seseorang melupakan jati dirinya, termasuk bahasa ibu yang digunakannya sehari-hari.

Salah satunya adalah yang dilakukan seorang lelaki kelahiran 15 Juli 1991 yang bernama I Komang Alit Juliartha.

Ia tetap bisa berkarya menggunakan dengan bahasa ibunya di tanah yang jauh.

Walaupun ia bekerja di kapal pesiar, namun ia tetap menulis dalam Bahasa Bali.

"Ini sebagai bentuk pertanggungjawaban saya sebagai orang Bali. Di manapun berada saya tetap harus ikut melestarikan bahasa Bali dengan cara apa yang saya bisa, salah satunya ya menulis dengan bahasa Bali khususnya dalam bentuk sastra Bali modern," kata pemuda asli Bangli ini saat dikonfirmasi Senin (25/11/2019) siang.

Durasi Jam Tidur Sesuai Kelompok Umur, Tips Mengatur Pola Tidur Agar Lebih Nyenyak

Jumlah Pelamar CPNS Pemprov Bali Mencapai 7 Ribu Orang, Pendaftaran Ditutup 28 November 2019

Hari Guru Nasional, 3 Kisah Inspiratif Guru, Hidup Tanpa Listrik & Hanya Digaji Rp 85 Ribu per Bulan

Dan terbukti, walaupun jauh dari Bali ia telah melahirkan tiga buku berbahasa Bali.

Ketiga bukunya yakni Swecan Widhi (2015) yang merupakan kumpulan cerpen berbahasa Bali, Satyaning Ati (2016) merupakan novel berbahasa Bali, serta Antologi Ling (2019) buku kumpulan cerpen berbahasa Bali.

"Buku terbaru saya terbit November 2019 berjudul Antologi Ling berisikan 11 cerpen. Setelah beberapa tahun tidak menerbitkan buku, akhirnya Antologi Ling terbit tahun 2019 ini. Konsep buku Antologi Ling ini yakni mistis kriminalis, cerpen-cerpen di dalamnya penuh drama, mistis, anarkis, kekerasan, luapan air mata," katanya.

Di kapal pesiar, ia selalu menyempatkan diri mencuri-curi waktu agar tetap bisa menulis.

Kini ia mengaku sedang menyelesaikan novel berbahasa Bali yang akan segera diterbitkannya.

"Saya hanya pulang ke Bali paling lama dua atau tiga bulan, sisanya saya di kapal. Mau tidak mau saya kebanyakan menulis di kapal," katanya.

Hingga Bulan Oktober 2019, Bandara Ngurah Rai Catat Telah Layani 19,9 Juta Penumpang

Ramalan Zodiak Cinta Senin 25 November 2019: Capricorn Bebas Stres, Aries Ingin Segera Menikah

Atas kegigihannya berkarya tersebut, ia diganjar penghargaan Hadiah Sastera Rancage tahun 2016 dari Yayasan Kebudayaan Rancage Bandung.

Ia mengaku walaupun jarang diam di Bali, namun kecintaannya tetap selalu untuk Bali.

"Melestarikan bahasa Bali bisa dilakukan dengan berbagai cara. Saya memilih untuk menulis sastra Bali modern sebagai tanda pengabdian terhadap bahasa ibu. Hanya itu yang bisa saya perbuat. Harapan saya kelak semakin banyak penulis sastra Bali modern yang ikut melestarikan bahasa Bali," katanya. (*)

Penulis: Putu Supartika
Editor: Meika Pestaria Tumanggor
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved