Pertama Kali Terjadi, Terpidana Perkara Narkotik Bayar Denda Tunai Rp 1 Miliar

Terpidana perkara narkotik, Michael Wijaya, melalui kerabatnya membayar uang denda Rp 1 miliar ke Kejari Denpasar, Bali, Jumat (29/11/2019).

Pertama Kali Terjadi, Terpidana Perkara Narkotik Bayar Denda Tunai Rp 1 Miliar
TRIBUN BALI
UANG DENDA - Kajari Denpasar, Luhur Istighfar (batik coklat) didampingi Kasipidum, Eka Widanta (batik korpri) menunjukan uang yang diserahkan kerabat terpidana Michael, Jumat (29/11/2019). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Terpidana perkara narkotik, Michael Wijaya, melalui kerabatnya membayar uang denda sebesar Rp 1 miliar ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Denpasar, Bali, Jumat (29/11/2019). Uang tersebut diterima langsung oleh Kepala Kejari (Kajari) Denpasar, Luhur Istightar didampingi Kepala Seksi Pidana Umum (Kasipidum) Kejari Denpasar, Eka Widanta.

Setelah menerima, uang itu langsung didaftarkan dan disetorkan ke Bank BRI sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Kejaksaan.

"Ini adalah uang pembayaran denda Michael Wijaya atas putusan Pengadilan Negeri Denpasar dalam perkara kasus narkoba pada tahun 2016, dan 2017 sudah mempunyai kekuatan hukum tetap," jelas Luhur.

Diketahui, dalam perkara ini Michael divonis bersalah terkait tindak pidana narkotik golongan I b erupa sabu-sabu seberat 19,44 gram dan 28 butir ekstasi dengan berat 9,02 gram. Oleh majelis hakim, dalam amar putusannya menjatuhkan pidana penjara kepada Michael dengan pidana penjara selama enam tahun. Selain itu ia juga dikenakan pidana denda Rp 1 miliar dengan ketentuan apabila tidak membayar denda maka diganti dengan penjara selama empat bulan.

"Dengan membayar denda Rp 1 miliar, sebagaimana putusan pengadilan, maka subsidernya selama empat bulan tidak dijalani," ucapnya.

Dibayarnya denda itu oleh keluarga terpidana, pihak kejaksaan mengucapkan terimakasih pada pihak terpidana, karena sudah ada pengurangan hukuman.

"Ini adalah bagian dari menegakkan hukum. Dengan adanya pembayaran denda ini, maka terjadi pengurangan hukuman," ucap pria yang baru beberapa bulan menjabat sebagai Kajari Denpasar itu.

Untuk selanjutnya, kata Luhur, uang Rp 1 miliar itu merupakan bagian dari Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang akan disetorkan ke bank sebagai kas negara. Menariknya dalam perkara narkoba, untuk pembayaran denda dalam kasus narkoba hingga Rp 1 miliar, untuk tidak menjalani hukuman subsider, boleh dibilang ini pertama kali di Denpasar.

"Kalau denda Rp 5 jutaan, banyak," sambung Eka Widanta.

Sementara saudara terpidana, Eka Wahyu yang mengantar dana Rp 1 miliar mengaku kasihan dengan kondisi adiknya. Terpidana yang saat ini mendekam di LP Kerobokan, mendapatkan perawatan karena sakit hepatitis B dan C.

"Semoga adik saya cepat keluar, karena juga sudah PB (pembebasan bersyarat). Itu harapan saya," ucap Eka Wahyu yang datang langsung dari Tangerang untuk membayar Rp 1 miliar. (can)

Penulis: Putu Candra
Editor: Ni Ketut Sudiani
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved