Ditanya Soal Pilkada Karangasem 2020, Artha Dipa: Kata Gus Dur Mundur Itu Tidak Baik

Kalau mengundurkan diri di tengah jalan, maka dia bisa terancam sanksi berupa pinalti

Ditanya Soal Pilkada Karangasem 2020, Artha Dipa: Kata Gus Dur Mundur Itu Tidak Baik
TRIBUN BALI/RAGIL ARMANDO
IGA Mas Sumantri (kiri) dan Yuli Artini (kanan) 

TRIBUN-BALI. COM, DENPASAR-  Konstelasi politik jelang pemilihan kepala daerah (pilkada) Karangasem 2020 hingga kini masih menghangat.

Wakil Bupati (Wabup) Karangasem I Wayan Artha Dipa, yang diprediksi maju sebagai calon Bupati Karangasem 2020-2025, memberi tanggapan ketika ditemui awak media di UNHI Denpasar, Sabtu (30/11/2019).

Sejauh ini, mantan Sekda di 'Bumi Lahar' ini mengaku fokus menyelesaikan tugasnya sebagai pendamping Bupati IGA Mas Sumatri hingga masa jabatannya berakhir tahun 2020 mendatang. 

Menurutnya, komitmen sebagai pasangan kepala daerah harus dituntaskan sesuai amanat UU Nomor 9 tahun 2012 sebagai perubahan atas UU nomor 23 tahun 2014 yang menyatakan pasangan bupati/ walikota harus menyelesaikan dan mengakhiri tugas dengan baik.

Kalau mengundurkan diri di tengah jalan, terancam sanksi berupa pinalti.

Namun Artha Dipa tak menampik telah melakukan komunikasi dengan konstituen dan sejumlah parpol.

"Lebih baik maju dari pada mundur.  Karena kata Gus Dur, mundur itu kan tidak baik. Tapi masih jauh lah," kata Arta Dipa menjawab pertanyaan awak media tentang kepastiannya maju sebagai calon bupati.

Ketua Umum Ikatan Alumui Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar ini menambahkan, proses pencalonan pasangan bupati Karangasem masih jauh. 

Kampus UNHI Rancang Prodi Ilmu Leak, Segera Undang Para Ahli

Catat, Ini Tanggal Seminar Soal Leak, Ambil Literasi dari Jawa dan India

Menurutnya, semua kemungkinan bisa terjadi karena politik bersifat dinamis.

Pun demikian soal peluang kembalinya paket Mas-Dipa (IGA Mas Sumatri dan I Wayan Arta Dipa) di Pilkada 2020.

"Sekarang yang saya pikirkan bagaimana menuntaskan visi-misi kami berdua (Mas-Dipa) dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) demi mewujudkan masyarakat Karangasem sejahtera. Soal kita jadi apa ke depan, atau Mas-Dipa maju lagi, itu dinamis, bisa 'last minute'," imbuhnya.

Artha Dipa mengaku masih mengikuti perkembangan hasil survei para tokoh yang dilakukan oleh parpol maupun lembaga survei lain.

Dikatakannya kursi bupati bukan soal kekuasaan, tapi ketulusan 'ngayah' untuk 'krama' Karangasem. (*)

Penulis: Wema Satya Dinata
Editor: Huda Miftachul Huda
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved