Mengenang Maestro Jeihan : Lahir, Hidup, dan Mati itu Siklus, Sesuatu yang Niscaya

Maestro seni lukis Indonesia Jeihan Sukmantoro mengembuskan napas terakhirnya, Jumat (29/11/2019) petang.

Mengenang Maestro Jeihan : Lahir, Hidup, dan Mati itu Siklus, Sesuatu yang Niscaya
KOMPAS//MAWAR KUSUMA WULAN
Makam yang sudah disiapkan di halaman belakang yang nantinya akan menjadi peristirahatan terakhir Jeihan. Foto diambil pada 16 Desember 2017. 

TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA - Maestro seni lukis Indonesia Jeihan Sukmantoro mengembuskan napas terakhirnya, Jumat (29/11/2019) petang. Pria kelahiran Surakarta, 26 September 1938, ini meninggal pada usia 81 tahun.

Ia meninggal di studio lukisnya di Jalan Padasuka Nomor 147, Kota Bandung. Jeihan diketahui sudah lama terbaring sakit akibat penyakit komplikasi. Nama Jeihan dalam jagat seni rupa Indonesia mulai besar setelah berkolaborasi dengan pelukis kondang S Soedjojono dalam pameran bertajuk "Temunya 2 Ekspresionis Besar" pada 4-11 Agustus 1985 di Hotel Sari Pacific, Jakarta.

Jeihan pernah menyabet dua penghargaan, yakni Penghargaan Perintis Seni Rupa Jawa Barat pada 2006 dan Penghargaan Anugerah Budaya Kota Bandung pada 2009.

Diberitakan harian Kompas, 23 Mei 2013, alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB) ini sejak beberapa bulan terakhir diketahui sibuk menyiapkan nisan. Bahkan, ia pergi ke Muntilan, Jawa Tengah, demi memburu pembuat nisan yang sesuai dengan desainnya. Bangunan makam di belakang studionya di kawasan Pasirlayung, Padasuka, Bandung, juga sudah disiapkan.

”Lahir, hidup, dan mati itu siklus, sesuatu yang niscaya. Saya harus persiapkan kapan saya pulang,” kata Jeihan kala itu.

Pelukis yang masyhur dengan lukisan mata hitam ini pernah menjalani cangkok ginjal di Singapura. Dikabarkan harian Kompas, 16 Maret 2019, Jeihan harus mengonsumsi puluhan obat setiap harinya untuk memelihara ginjal hasil cangkokan.

Hal itu dijalaninya selama 12 tahun. Jeihan juga pernah menjalani operasi kanker getah bening di leher bagian kirinya. Dalam pameran tunggal yang digelar pada Desember 2018, Jeihan mengucapkan kata pamit karena penyakit kanker getah bening stadium lanjut yang bersarang di tubuhnya.

Hasil karya Jeihan berupa lukisan berjudul "Yang Mulia 6 RI Satu: untuk Ibu Pertiwi" berukuran 3x8 meter yang berisi sosok enam presiden yang pernah memimpin bangsa Indonesia menjadi ikon di Balai Kirti, Istana Presiden Bogor, sebagai koleksi negara.

Diberitakan harian Kompas, 24 November 2018, Karya Jeihan tak hanya lukisan, tetapi juga patung, grafis, keramik, bahkan puisi. Lukisan-lukisan figur bermata hitam menjadi salah-satu ciri karya Jeihan. Mata hitam tidak hanya terkait visualisasi dan menjadi simbol ikonik lukisan Jeihan semata, tetapi juga bentuk ekspresi atas pengalaman kehidupan berada di ambang nyata dan nyawa. (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Mengenang Maestro Seni Lukis Jeihan Sukmantoro...".

Editor: Ni Ketut Sudiani
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved