Polemik penempatan aksara Bali

Meski Dipermasalahkan Polda, Pemprov Tetap Minta Warga Pasang Aksara Bali di Atas Bahasa Latin

Pemprov Bali minta masyarakat untuk tetap berpegang pada pergub soal penempatan aksara bali yang harus lebih atas dibanding aksara latin

Meski Dipermasalahkan Polda, Pemprov Tetap Minta Warga Pasang Aksara Bali di Atas Bahasa Latin
TRIBUN BALI/ZAENAL NUR ARIFIN
Bertempat di parking stand_nomor 8, apron utara Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Manajemen PT Angkasa Pura I (Persero) selaku pengelola Bandar Udara, bersama Gubernur Bali, I Wayan Koster beserta jajaran Pemerintah Provinsi Bali dan tamu undangan, menggelar acara peresmian penggunaan Aksara Bali pada signage Bandar Udara, Kamis (5/9/2018) malam. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Kepolisian Daerah (Polda) Bali mempermasalahkan aturan penulisan aksara Bali dalam penulisan papan nama kantor, jalan, gedung, sarana pariwisata, dan fasilitas umum lainnya yang ditempatkan di atas huruf Latin.

Pihak Polda Bali sampai mendatangi Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bali pada Rabu (27/11/2019) lalu untuk meluruskan polemik penempatan aksara Bali ini.

Meski dipermasalahkan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali tetap mengimbau masyarakat agar tetap melakukan hal tersebut sesuai Peraturan Gubernur (Pergub) Bali Nomor 80 Tahun 2018 tentang Pelindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali serta Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali.

Dalam pergub ini pemasangan aksara Bali di plang atau papan nama perusahaan atau lembaga swasta maupun lembaga pemerintahan harus di atas bahasa latin atau bahasa Indonesia.

Aturan itulah yang diminta Pemprov Bali untuk diikuti.

"Seluruh masyarakat Bali agar melaksanakan Peraturan Gubernur Bali Nomor 80 Tahun 2018 tentang  Pelindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali serta Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali dengan baik, semangat, dan penuh rasa bangga," kata Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Bali Anak Agung Ngurah Oka Sutha Diana.

Hal itu Sutha Diana tegaskan melalui keterangan tertulis yang diterima Tribun Bali, Minggu (1/12/2019).

Menurutnya, Aksara Bali merupakan huruf yang digunakan untuk menuliskan segala aspek kehidupan masyarakat Bali sejak dahulu sebelum dikenal huruf latin.

Bukti-bukti itu dapat dilihat dari semua naskah lontar, prasasti, purana, dan berbagai manuskrip lainnya yang memuat keseluruhan pengetahuan, tradisi, seni, dan budaya serta kearifan lokal dari lelangit, leluhur, dan Para Kawi Bali dari zaman ke zaman.

Selain itu, Aksara Bali juga digunakan dalam Kakawin Sutasoma yang memuat Sesanti Bhinneka Tunggal Ika dan nama Pancasila terbukti telah menyelamatkan khasanah budaya Nusantara.

Halaman
123
Penulis: I Wayan Sui Suadnyana
Editor: Huda Miftachul Huda
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved