Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Kepala SD 1 Kediri Tabanan Mengaku Diteror Orang Tak Dikenal, Diminta Uang Rp 3,5 Juta

Kepala SDN 1 Kediri, Ni Ketut Adi Marwati (52) mendapat teror melalui sebuah pesan singkat sejak Rabu (4/12/2019) pagi.

Penulis: I Made Prasetia Aryawan | Editor: Widyartha Suryawan
pixabay.com
Ilustrasi teror 

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Kepala SDN 1 Kediri, Ni Ketut Adi Marwati (52) mendapat teror melalui sebuah pesan singkat sejak Rabu (4/12/2019) pagi.

Orang yang mengirim pesan singkat tersebut mengaku dari sebuah LSM. Oknum tersebut mengancam dirinya jika tak kunjung mengirimkan uang senilai Rp 3,5 Juta.

Kepala Sekolah asal Desa Banjar Anyar, Kecamatan Kediri, Tabanan, ini menuturkan, awalnya pelaku mengirimkan SMS dulu yang isinya tuduhan bahwa Ketut Marwati ini telah menggelapkan dana anggaran sekolah seperti dana rehab gedung dan lainnya lagi.

Pesan singkat tersebut terus dikirimkan kepadanya hingga akhirnya pelaku ini menghubunginya pada malam hari sekitar pukul 20.00 Wita.

Ancaman tersebut disertai dengan permintaan pelaku yang menginginkan korban mengirim uang damai senilai Rp 3.5 Juta ke orang tak dikenal yang mengaku dari LSM tersebut.

"SMS tersebut tak saya hiraukan, karena saya anggap orang iseng saja. Terrnyata malamnya lagi menelpon. Dia menuding saya telah menggelapkan dana rehab perpustakaan, saya tepis langsung karena dana tersebut sudah melalui proses tender dan dikerjakan oleh pihak Rekanan dan semua sudah sesuai dengan SPJ," tuturnya.

"Terus dia mengaku dari LSM dan mengaku sudah punya data (penggelapan) tersebut kemudian meminta uang damai senilai Rp 3.5 Juta," ungkapnya.

Setelah peristiwa tersebut, ia menceritakan apa yang dialaminya kepada temannya.

Temannya yang mendengar cerita tersebut kemudian mencoba melacak keberadaan nomor ponsel tersebut menggunakan sebuah aplikasi.

Diketahui, pengirim pesan tersebut berada di wilayah Lamongan, Jawa Timur.

"Saya takut sekali sebenarnya kemarin (Rabu), kemudian saya matikan handphone dan ganti kartunya agar tidak dihubungi lagi. Kemudian, saya juga sudah buang nomor tersebut agar dia tak bisa meneror lagi. Perkiraan saya dia (pelaku) sepertinya sempat menjadi sales buku. Kemungkinan karena tak beli, makanya melakukan hal tersebut (teror). Dan sebelum itu juga sempat meminta nomor saya dan saya kasi, saya jadi kapok ini kasi nomer ke orang lain," imbuhnya.

Marwati melanjutkan, pengirim pesan ingin memeras dengan cara meminta uang dan mengancam akan memasukan namanya di media massa dengan tuduhan penggelapan dana rehab gedung di sekolahnya.

Pengirim pesan juga mengaku sudah memiliki data lengkap beserta bukti untuk menunjukan dirinya melakukan penggelapan tersebut.

"Dia terus menekan agar mengirimkan uang, Dia juga tau riwayat saya sempat bertugas di SDN 7 Kediri. Sehingga saya menduga orang tersebut kerap datang ke sekolah dan mengenal saya," paparnya.

Marwati memilih tak ingin memperpanjang kasus tersebut. Ia hanya berharap tak akan lagi mendapat teror seperti itu.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved