Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Begini Cara Kerja Lampu Laser Bisa Rekayasa dan Hentikan Hujan

, ilmuwan dari sebuah universitas di Swiss menemukan cara mengendalikan hujan dengan teknik pengembunan dibantu laser.

Penulis: Rizki Laelani | Editor: Rizki Laelani
Tribun Bali/Rizal Fanany
Langit mendung terlihat di atas Patung Titi Banda, Jalan By Pass Ngurah Rai, Denpasar, Sabtu (12/1/2019). 

Begini Cara Kerja Lampu Laser Bisa Rekayasa dan Hentikan Hujan

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Laser bisa merekayasa hujan dengan cara memecah gumplapan awan potensi hujan.

Dikutip dari berbagai sumber, ilmuwan dari sebuah universitas di Swiss menemukan cara mengendalikan hujan dengan teknik pengembunan dibantu laser.

Dengan teknik ini, hujan bisa direkayasa atau sebaliknya dihentikan.

Dikutip Nature yang menerbitkan artikel pada awal September 2011, menulis para peneliti dari Universitas Jenewa ini menemukan cara menembakkan laser untuk membuat butiran air di udara dengan teknik tertentu.

Teknik ini diklaim lebih aman daripada metode yang sudah dipakai saat ini seperti dengan mengisi udara dengan partikel es kering dan iodida perak.

Dengan teknik yang disebut pengembunan air dengan bantuan laser, partikel asam nitrat terbentuk ketika laser ditembakkan ke udara. Efeknya membuat molekul air bergabung.

BBMKG Berikan Keterangan Seperti Ini Setelah Hujan Lebat di Bali Semalaman

Laser Bisa Mengendalikan Bahkan Menghentikan Hujan, Ini Kata Ketua PHDI Bali dan Kajian di Swiss

Akhirnya Hujan Turun di Sarbagita Setelah PHDI Gelar Ritual Ini

BREAKING NEWS: Sebagian Bali Diguyur Hujan Deras, BMKG Berikan Peringatan Ini

Sejauh ini, riset baru bisa membentuk molekul yang terlalu ringan untuk bisa jatuh sebagai hujan.

Namun, para ilmuwan berharap nanti akan bisa mengendalikan ukuran butiran air. Jika itu terjadi, mereka bisa menentukan kapan hujan atau tidak hujan.

Sayangnya, teknik ini hanya bisa dilakukan di udara yang lembab, bukan yang kering. Karena itu, penerapannya jadi terbatas.

"Mungkin suatu hari ini menjadi cara memendekkan musim hujan atau mengurangi banjir di kawasan tertentu," Jérôme Kasparian, fisikawan Universitas Jenewa yang ikut penelitian ini.

Namun yang pasti, para peneliti ini hakul yakin teknik ini lebih baik daripada yang telah ada sekarang ini.

"Laser bisa berjalan terus-menerus dan Anda tak perlu menyebar sejumlah iodida perak di atmosfir," kata Kasparian seperti dilansir Guardian.

Di bagian lain, Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jembrana, Rahmat Prasetia mengatakan, tidak adanya hujan dikarenakan laser atau lampu sorot.

Tidak bisa hal semacam itu (lampu sorot) menggagalkan hujan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved