Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Serba Serbi

Mitos dan Musik Misterius di Sungai Petanu Gianyar Bali

Di zaman dengan kemajuan teknologi yang demikian pesat seperti sekarang, mitos mungkin tampak seperti omong kosong belaka. Namun, di Bali kita akan

Penulis: Widyartha Suryawan | Editor: Ady Sucipto
TRIBUN BALI/I WAYAN ERI GUNARTA
Ini lokasi penambangan liar di Sungai Petanu perbatasan Blahbatuh-Sukawati, Gianyar.Sulitnya mencari pekerjaan benar-benar dirasakan para penambang liar. 

Konotasi-konotasi tersebut kemudian mendominasi pikiran anggota suatu komunitas budaya sehingga sebuah peristiwa tampak normal dan alamiah.

Dalam kondisi seperti inilah, konotasi-konotasi yang demikian kemudian disebut sebagai mitos.

Chris Barker dalam satu bukunya menulis: "mitos merupakan konstruksi sosial, yang tampak seperti kebenaran-kebenaran universal yang terberi (pre-given) yang tertanam dalam nalar sehari-hari."

Berkembangnya makna konotasi yang telah menjadi mitos inilah yang menyebabkan warga mempercayai musik tersebut berpusat di Sungai Petanu, dan merupakan musik yang dimainkan wong samar atau di Bali kerap disebut gamang.

Warga kemudian mengaitkannya dengan sistem kepercayaan mereka sehingga menyimpulkan musik tersebut berasal dari alam gaib.

Menghapus Mitos?

Mitos kerap dibenturkan dengan kemajuan (modernitas).

Kepercayaan terhadap mitos-mitos akan dianggap sebagai hambatan untuk menjadi maju dan modern.

Menghapus mitos-mitos tradisional dalam struktur masyarakat Bali tampaknya tak bisa dilakukan dalam waktu yang singkat -- atau bahkan masyarakatnya memang tak mengkhendaki untuk menghapus mitos-mitos itu.

Belum lama ini, UNHI Denpasar mewacanakan akan membuka program studi Ilmu Pengleakan yang mempelajari ilmu kebatinan khas Bali.

Ilmu pengeleakan yang dikembangkan UNHI nanti untuk kepentingan-kepentingan yang sifatnya spiritual, dan bukan destruktif untuk menyakiti orang lain.

Rencana pembukaan program studi Ilmu Pengleakan ini menuai pro dan kontra di masyarakat -- terutama jika diamati dari komentar para netizen di media sosial.

Ada yang mendukung, ada pula yang sensi.

"Orang lain sudah terbang ke bulan, di sini masih saja bahas ngeleak. Sing nekang pipis to, Yan! (Tidak mendatangkan uang itu, Bro!)" demikian komentar salah satu netizen yang kontra.

Di Eropa, orang-orang sudah memiliki semangat revisi atas kepercayaan-kepercayaan tradisional, memisahkan pengaruh-pengaruh keagamaan dari kehidupan mereka sekitar tahun 1695-1815).

Sumber: Tribun Bali
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved