Kental dengan Nilai-nilai Tradisi, Perayaan Imlek di Bali Juga Disebut Galungan China
Imlek di Bali juga disebut Galungan China. Imlek sebagai Galungan China karena di Bali terkenal dengan kearipan lokalnya.
Penulis: Meika Pestaria Tumanggor | Editor: Huda Miftachul Huda
TRIBUN-BALI.COM - Tanggal 25 Januari 2020 mendatang, Tahun Baru Imlek 2571 akan dirayakan.
Pernahkah Tribunners merayakan Imlek di Bali?
Atau tahukan Tribunners apa yang menarik ketika perayakan Imlek di Bali?
Imlek di Bali juga disebut Galungan China.
Pemangku di Griya Kongcho Dwipayana Tanah Kilap, Ida Bagus Adnyana mengatakan disebutnya Imlek sebagai Galungan China karena di Bali terkenal dengan kearifan lokalnya.
"Ini wujud kearifan lokal di Bali yang artinya Chinese dan Bali itu menyatu seperti bersaudara," kata Adnyana.
Ia menambahkan setiap Galungan China ini ada ciri khas yakni turun hujan sehingga dikatakan bahwa Bhatara China turun ke dunia.
Dalam kehidupan masyarakat Tionghoa, hujan diyakini sebagai lambang kesejahteraan.
"Hujan secara logika kan air yang membawa berkah yang jadi lambang kesejahteraan. Kalau sudah sejahtera pasti bahagia," kata Adnyana.
Selain itu ada berbagai pernak pernik Imlek seperti tebu yang jadi simbol penuntun agar seseorang berjalan di jalan yang benar.
"Kalau ang pao itu diberikan oleh yang lebih tua kepada yang muda. Ini sudah tradisi Chinese yang merupakan simbol suatu ikatan supaya tidak lupa berbakti pada orangtua," katanya.
Salah satu warga yang merayakan Imlek, I Made Julio Saputra, mengatakan Imlek disebut Galungan China agar lebih akrab.
"Imlek di Bali juga sering disebut Galungan Cina. Mungkin biar lebih akrab, daripada kata Imlek yang sedikit asing di telinga kita,” kata Julio.
Sebagaimana kebiasaan di desanya, yaitu Desa Baturiti, Tabanan, warga Hindu yang ada di sana akan membantu warga keturunan untuk mempersiapkan penyambutan Hari Raya Imlek.
Sebaliknya, nantinya warga keturunan juga akan melaksanakan tradisi ngejot (berbagi) kepada warga atau tetangga yang beragama Hindu di sana.
Adapun jotan tersebut berupa makanan seperti kue, sayur, dan makanan khas Tionghoa lainnya.
Bahkan, ia mengatakan sering mendengar perkataan warga di sana, “Kapan Galungan China?”
Menurut Julio, yang ia dapatkan dari penuturan engkongnya, beberapa makanan maupun pernak-pernik Imlek memiliki makna dan arti yang mendalam.
Jeruk Mandarin merupakan simbol kekayaan dalam kepercayaan dan budaya Cina, karena terlihat seperti bola-bola emas.
Mie panjang umur memiliki makna panjang umur bagi orang-orang Tionghoa.
Permen dan manisan itu bermakna sebagai harapan yang ingin dicapai tahun ini.
Kue keranjang harus selalu disusun bertingkat dan tinggi.
Ini memiliki makna peningkatan rejeki dan kemakmuran bagi orang-orang Tionghoa.
Kue ini juga dimakan sebelum makan nasi, sebagai penghargaan agar selalu beruntung dalam melakukan apapun.
Penjor tebu di pintu masuk memiliki makna keberuntungan dan simbol panjang umur, semakin banyak ruas tebunya semakin beruntung.
Angpao memiliki makna hadiah bagi anak-anak karena umur mereka bertambah.
Sedangkan lampion bermakna sebagai simbol kebahagiaan seseorang.
Perayaan Imlek juga kental dengan tradisi.
Dilansir dari kompas.com, selain pementasan barongsai dan liong, berikut sejumlah tradisi Tionghoa yang menarik saat perayaan Imlek.
1. Pantangan
Inti dari hari raya Imlek bagi masyarakat Tionghoa adalah berkumpul bersama, duduk di meja makan dan bersyukur dalam kebersamaan.
Namun, ada serangkaian sejumlah ritual yang dilakukan dalam menyambut tahun baru.
Salah satunya adalah mereka harus membersihkan rumah mereka sebelum Imlek.
Menurut kepercayaan Tionghoa, membersihkan rumah dapat mengeluarkan hal buruk selama setahun sebelumnya.
Mereka biasanya menyapu halaman rumah dan menata kondisi rumah menjelang Imlek.
Namun, membersihkan rumah justru pantang dilakukan saat Imlek.
Sejarawan Revando Lie sebagai pemerhati Tionghoa mengungkapkan bahwa bersih-bersih ketika Imlek mampu memberikan segala keberuntungan seseorang, ketika dilakukan sebelum tahun baru.
Dalam tradisi Imlek sangat dihindari kebiasaan yang dianggap tabu yakni menangis, mengucapkan kata kotor, berkata kasar, berpakaian hitam, makan bubur, meminjam uang dan lain sebagainya.
Kebiasaan menangis didefinisikan sebagai lambang kesedihan, serta harus dihindari.
Mengucapkan kata-kata kotor dipercaya akan mendatangkan ucapan itu menjadi kenyataan.
Sedangkan makan bubur didefinisikan menghalangi rezeki dan mendekatkan diri pada kemisikinan.
Oleh karena itu, di meja makan biasa tersedia nasi padat agar rezeki lancar.
2. Angpau
Angpau berasal dari bahasa Hokkien, sedangkan dalam Bahasa Mandarin disebut Hongbao yang maknanya amplop merah.
Selain menjadi tradisi di China, pemberian angpau juga diadopsi oleh masyarakat Tionghoa di Asia Tenggara dan beberapa negara yang memiliki populasi keturunan Tionghoa yang besar.
Cikal bakal dari tradisi angpau ini dipercaya ketika masa Dinasti Qin berkuasa pada 221 sampai 226 SM.
Tradisi pemberian angpau, biasanya diberikan oleh orang yang sudah menikah terhadap yang belum menikah.
Sementara beberapa daerah di Cina Utara dan Selatan, angpau sendiri diberikan kepada orang tua kepada mereka yang berumur di bawah 25 tahun.
Hal yang menjadi unik adalah mengenai jumlah isi angpau yang diberikan.
Jumlahnya tak ditentukan, tapi biasanya angkanya genap.
Mengingat angka ganjil identik dengan pemakaman.
Di samping itu, etnis Tionghoa menghindari angka empat (4) dalam memberikan angpau, karena pelafalannya mirip dengan kata mati.
3. Warna merah
Pemberian angpau juga dilakukan dengan memasukannya ke dalam amplop berwarna merah.
Semua hal yang berkaitan dengan Imlek juga identik dengan warna merah.
Mulai dari busana, amplop, hingga ornamen atau hiasan-hiasan saat perayaan Tahun Baru Imlek.
Beberapa obyek wisata pun dihiasi dengan lampion merah hingga lilin-lilin hingga ornamen atau bangunan bewarna merah.
Menurut Revando, kepercayaan Tionghoa menganggap bahwa merah membawa keberuntungan.
Warna merah juga merupakan unsur "yang".
Warna merah yang juga dimaknai warna panas, warna matahari.
Unsur api diharapkan dapat memberikan suasana kebahagiaan.
Serba-serbi warna merah ini menggambarkan pengharapan di tahun baru tersebut segala kesedihan dan kegelapan akan sirna digantikan dengan kebahagian.
4. Hujan
Dalam setiap perayaannya, Imlek biasanya identik dengan hujan deras.
Tak sedikit orang yang mengkaitkan antara keduanya.
Namun, penjelasannya adalah bahwa memang setiap perayaan Imlek terjadi pada bulan-bulan yang identik dengan musim hujan.
"Tak sedikit orang Tionghoa yang meyakini ada keberuntungan yang jatuh ke bumi berbarengan dengan turunnya hujan tersebut," kata Ravando. (*)