Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Ngopi Santai

Adakah Kaitan Wajah Cakep dengan Penghasilan dan Tingkat Kebahagiaan?

Menilai (kualitas) seseorang atau sesuatu, seharusnya kita tidak terkesima oleh tampilan atau tampak fisiknya.

Penulis: Sunarko | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Gambar oleh Denise Husted dari Pixabay
Ilustrasi bahagia. Adakah Kaitan Penampilan dengan Penghasilan dan Tingkat Kebahagiaan? 

“Don’t judge a book by its cover (jangan menilai sebuah buku dari sampulnya)”

Demikian perumpamaan atau metafora lama, yang mengandung pesan bijak bahwa dalam menilai (kualitas) seseorang atau sesuatu, seharusnya kita tidak terkesima oleh tampilan atau tampak fisiknya.

Penglihatan bisa mengecoh, karena apa yang terlihat di luar belum tentu mewakili apa yang ada di dalam.

Perumpamaan tersebut masih berlaku dan banyak dipegang hingga kini. Namun, sebuah survei tentang kaitan antara penampilan seseorang dan penghasilannya mengungkapkan temuan yang cukup mengagetkan, dan mendisrupsi makna dari mefatora tersebut.

Dalam bukunya Barking up The Wrong Tree (Mendaki Tangga Yang Salah), yang edisi Indonesia-nya diterbitkan pada akhir 2019 lalu, Eric Barker menulis bahwa di dunia kerja, perempuan cantik mendatangkan 4% lebih banyak uang, dan pria tampan mendapat 3% tambahan (penghasilan).

Eric, dikenal sebagai penulis pengembangan diri di New York Times dan majalah Time, kemudian melanjutkan bahwa “perempuan kurang cantik mendapatkan (penghasilan) 3% lebih sedikit, dan pria yang kurang tampan membawa pulang 22% lebih sedikit uang”.

Ia menekankan, orang-orang rupawan ini bukan lebih sukses (daripada orang-orang yang kurang rupawan) lantaran kita senang melihat mereka. Bukan begitu ternyata.

Kajian menunjukkan bahwa bungkus luar atau penampilan fisik yang indah (outer beauty) membuat mereka memiliki kepercayaan diri yang lebih tinggi. Nah, percaya diri yang tinggi itu akan membuat hidup seseorang bersemangat dan mendorong produktivitasnya, sehingga pada gilirannya membuat mereka bersinar dalam pekerjaan.

Eric tidak asal menulis. Ia mengutip hasil sebuah kajian di Amerika Serikat (AS), yang diadakan bekerjasama dengan pihak pengelola Rosenberg Self-Esteem Scale.

Hasil survei lain mengungkapkan data-data yang relevan. Survei global yang dipublikasikan pada 2017 oleh sebuah produk perawatan tubuh perempuan juga menyebutkan, sekitar 54 persen perempuan di dunia yang berusia 10-17 tahun tidak memiliki body esteem yang tinggi.

Body esteem adalah bagaimana seseorang merasa atau memandang penampilan fisiknya, termasuk berat badannya, rambut, matanya, dan fitur-fitur fisik lain yang membangun penampilannya. Pendek kata, body esteem adalah tentang kecantikan luar (outer beauty).

Body esteem berbeda dari self-esteem. Self esteem (biasa diterjemahkan sebagai harga diri) adalah bagaimana seseorang merasakan/memandang diri sendiri sebagai manusia.

Bisa dikatakan, self esteem tidak hanya menyangkut aspek fisik atau lahir tapi juga batin. Jadi self esteem mencakup kecantikan luar (outer beauty) dan kecantikan dalam (inner beauty). 

Disebutkan oleh survei tersebut bahwa kebanggaan atas penampilan fisik yang lebih atraktif (higher levels of body esteem) memiliki dampak jangka panjang pada kepercayaan diri perempuan, daya tahan serta kepuasan hidupnya.

Sedangkan kebanggaan diri yang rendah pada penampilan fisik (low body esteem) membuat perempuan lebih cenderung kehilangan atau melewatkan kesempatan-kesempatan penting dalam hidupnya, karena ia pilih menarik diri dari kegiatan-kegiatan yang sesungguhnya bisa mengembangkan dirinya secara fundamental, lantaran “mengalah” pada tekanan penilaian (publik) mengenai kecantikan.   

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved