Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Ngopi Santai

Adakah Kaitan Wajah Cakep dengan Penghasilan dan Tingkat Kebahagiaan?

Menilai (kualitas) seseorang atau sesuatu, seharusnya kita tidak terkesima oleh tampilan atau tampak fisiknya.

Tayang:
Penulis: Sunarko | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Gambar oleh Denise Husted dari Pixabay
Ilustrasi bahagia. Adakah Kaitan Penampilan dengan Penghasilan dan Tingkat Kebahagiaan? 

Dalam konteks ini, apa yang dikatakan tokoh feminis awal abad ke-21 asal Prancis, Simone de Beauvoir, menemukan buktinya, yaitu “to lose confidende in one’s body is to lose confidence in oneself” (kehilangan kepercayaan pada tubuh fisik sama saja dengan kehilangan kepercayaan pada diri sendiri).

Oleh karena itu, sebuah proyek besar untuk meningkatkan body esteem diluncurkan oleh perusahaan produk perawatan perempuan global itu di Brazil, India dan Indonesia pada 2019 lalu, yang bekerjasama dengan Unicef. Harapannya, pada 2022 nanti akan tercipta peningkatan body confidence dan self esteem di tiga negara tersebut.

By the way, mereka yang secara fisik dinilai tidak memiliki body esteem tinggi tak perlu berkecil hati, apalagi merasa kalah. Dan seharusnya memang tidak perlu  demikian.           

Kabar gembira dibawa oleh Daniel L. Benkendorf. Dia adalah profesor di Fashion Institute of Technology, State University of New York.

Secara garis besar, dari penelitian ilmiahnya, Benkendorf menemukan bahwa semakin kita terobsesi dengan kecantikan luar dan hal-hal yang terkait dengannya (seperti produk-produk kecantikan dan fashion), maka kita akan semakin tidak bahagia.

Temuan Benkendorf itu dikutip oleh Ahmad Faiz Zainuddin dalam bukunya Healing The Soul: 99 Cara Menyemai Cinta dan Bahagia, yang diterbitkan September 2019 lalu.

Semakin tinggi minat kita terhadap produk kecantikan, atau semakin sering membelinya demi mempercantik diri (outer beauty), anehnya justru menandakan bahwa kita cenderung semakin tidak bahagia (less subjective well being), kata Benkendorf seperti dikutip Ahmad Faiz.

Dengan kata lain, semakin fokus pada outer beauty (kecantikan luar atau fisik), maka kita akan semakin merasakan inner beast (penderitaan batin).

Inilah yang disebut Denkendorf dengan istilah “Beauty and The Beast Paradox”, sebagaimana yang dipaparkannya pada “The 6th World Congress of International Positive Psychology Association” di Australia pada Juli 2019 lalu.

Perusahan riset pasar milik Warren E. Buffet memperkirakan bahwa industri kecantikan dunia akan benilai 699 miliar dolar AS (sekitar 10.000 triliun rupiah) di tahun 2023. Sedangkan industri fashion jauh lebih besar nilainya, yaitu 3 triliun dolar AS (42.000 triliun rupiah). Sebuah angka fantastis yang mendanai obsesi massal sebagian umat manusia, yang pada akhirnya hanya membuat mereka makin tidak bahagia,” demikian seperti ditulis Healing The Soul tersebut.

Kata Eric Barker, kepercayaan diri yang semata dibangun dari outer beauty akan membuat kita jadi delusi, buta pada kebutaan kita sendiri.

Bagaimana pendapat(an) Anda?

Denpasar, 10/01/2020

Sumber: Tribun Bali
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved