Ngopi Santai
Bau Bawang dari China
TATKALA tuan dan puan menikmati menu makan pagi, siang atau makan malam hari ini, ketahuilah asal-asal usul sumber protein dan gizi yang menghidupimu
Penulis: DionDBPutra | Editor: Rizki Laelani
TATKALA tuan dan puan menikmati menu makan pagi, siang atau makan malam hari ini, ketahuilah asal-asal usul sumber protein dan gizi yang menghidupimu itu.
Berasmu dari Vietnam, kacang hijau produksi Amerika, garam Singapura, bawang putih dari China, buah asal Thailand, dan daging sapi Australia.
Dari negerimu sendiri yang dikau agungayukan sebagai gemah ripah loh jinawi mungkin hanya air.
Ya, air yang makin ke sini harganya pun mencekik selangit.
Begitulah tuan dan puan. Di era industri 4.0 ini sekadar "kedaulatan meja makan" bukan sepenuhnya milikmu.
Kita adalah bangsa dan negara yang dikaruniai sumber pangan berlimpah ruah, mungkin paling kaya di dunia.
Namun, keberadaan kita di zamrud katulistiwa tak berdaulat pangan.
Penghuni negeri +62 ini akan langsung terkapar kehilangan selera makan hanya dengan sekali gertak.
Sebut misalnya, penguasa Tiongkok tiba-tiba bersabda hentikan dulu ekspor bawang putih ke Indonesia atau tetangga terdekat Singapura dan Australia iseng tutup keran ekspor garamnya.
Maka semangkuk sup di meja makanmu akan hambar tanpa bau bawang dari Tiongkok atau asin garam Singapura yang bahkan luas lautnya hanya sejengkal dibandingkan samudera raya Indonesia.
Bau bawang dari China menyengat kesadaran betapa negeri agraris ini begitu loyo menyiapkan sembako buat perut rakyatnya sendiri.
Impor ekspor dalam alam globalisasi memang keniscayaan.
Namun, impor mestinya sekadar menutupi kekurangan.
Ilmu ekonomi mengajarkan demikian. Nah yang terjadi pada Indonesia tercinta adalah ketergantungan hampir paripurna pada impor. OMG!
Jerit sedih mengenai kesuna (bahasa Bali = bawang putih) mengudara dari Pulau Dewata.