Ketua PHDI Bali: Siwaratri Malam Peleburan Dosa, Jangan Berbuat Hal-hal Negatif
Makna Siwaratri diyakini sebagai malam peleburan dosa, dengan melaksanakan tapa, beratha, Yoga, dan Semadi
Penulis: Wema Satya Dinata | Editor: Irma Budiarti
Ketua PHDI Bali: Siwaratri Malam Peleburan Dosa, Jangan Berbuat Hal-hal Negatif
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Sehari sebelum Tilem Kapitu, Umat Hindu merayakan Hari Suci Siwaratri yang mana tahun 2020 ini jatuh pada Kamis (23/1/2020).
Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali, Prof Gusti Ngurah Sudiana mengatakan, makna Siwaratri diyakini sebagai malam peleburan dosa sesuai dengan Kitab Siwa Purana, Agni Purana, Skanda Purana dan sebagainya.
Dosa-dosa tersebut dapat dilebur pada saat malam Siwaratri dengan melaksanakan tapa, beratha, Yoga, dan Semadi.
Tambahnya, dosa yang dilebur bukan berarti dosanya hilang.
Namun dosa atau perbuatan adharma dapat diimbangi dengan perbuatan dharma, sehingga diharapkan terjadi keseimbangan yang relatif lebih mengunggulkan dharma.
Prof Sudiana menyebut, Siwaratri merupakan momen untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Siwa.
Karena pada saat hari ke-14 sasih Tilem kapitu itu merupakan puncak alam Siwa, puncak malam tergelap di antara malam-malam yang lain dan memiliki kekuatan untuk melebur dosa.
Oleh karena itu, umat diharapkan melakukan pemujaan Namasmaranam pada Nama Siwa, yang artinya selalu mengingat dan memuja Siwa dalam upaya melenyapkan segala kegelapan batin.
“Mengulang-ngulang nama Tuhan, bertapa, yoga, semadi supaya Tuhan mendekat ke kita, dan kita mendekat ke beliau. Supaya kita ingat dengan diri, ingat dengan lingkungan dan ingat dengan apa yang menjadi tujuan hidup kita,” kata Prof Sudiana saat dihubungi melalui sambungan seluler, Kamis (23/1/2020).
Maka dari itu, Rektor IHDN Denpasar ini berpesan agar pada Hari Suci Siwaratri ini umat dapat memanfaatkan momennya untuk bagaimana membuat diri sendiri menjadi jauh lebih baik, dibandingkan sebelum Siwaratri.
Menurutnya, banyak manfaat spiritual yang didapatkan dalam Siwaratri, seperti pengendalian diri, pengendalian pikiran, pengendalian perkataan, pengendalian perbuatan menjadi satu.
Oleh karena itu, umat sebaiknya melaksanakan Dharma Tula, Tirta Yatra, puasa, yoga dan semadi.
“Jangan begadang di pinggir pantai, salah itu. Itu merupakan perayaan Siwaratri yang keliru, bukan begadang dengan cara yang salah,” terangnya.
Namun begadang hendaknya dilakukan dengan mengucapkan nama-nama Tuhan, membaca kitab suci yang berkaitan dengan mitologi-mitologi tentang kehidupan, seperti cerita Ramayana, Mahabharata, Purana, Upanisad dan sebagainya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ketua-phdi-bali-prof-i-gusti-ngurah-sudiana.jpg)