Vaksin ASF Selesai Dua Bulan, Hasil Uji Lab Babi Mati Mendadak Akan Diumumkan Kementerian
Pemerintah Pusat sedang membuat vaksin untuk penyakit demam babi Afrika atau African Swine Fever (ASF)
Penulis: Wema Satya Dinata | Editor: Irma Budiarti
Vaksin ASF Selesai Dua Bulan, Hasil Uji Lab Babi Mati Mendadak Akan Diumumkan Kementerian
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Di tengah banyaknya babi mati mendadak di Bali, rupanya Pemerintah Pusat sedang membuat vaksin untuk penyakit demam babi Afrika atau African Swine Fever (ASF) di Pusat Veteriner Farma (Pusvetma), Surabaya, Jawa Timur.
Menurut Kepala Balai Besar Veteriner (BBVet) Denpasar, I Wayan Masa Tenaya, institusi yang berada di bawah Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian RI ini mengikutsertakan Bali sebagai tim pembuat vaksin, yaitu BBVet Denpasar dan Universitas Udayana (Unud).
Selain melibatkan Unud dan BBVet Denpasar, tim juga beranggotakan Pusvetma Surabaya, Universitas Brawijaya, Universitas Airlangga, UGM, IPB Bogor dan sebagainya.
Saat disinggung kapan hasil pengujian laboratorium atas kematian babi mendadak di Bali bisa diumumkan, ia berdalih hal tersebut bukanlah ranah kewenangannya.
Yang berwenang mengumumkan hasilnya adalah pihak kementerian di Jakarta.
“Semua sampel saya kirim ke lab rujukan di Medan. Yang berwenang menjawab hasil tersebut adalah Pusat (Kementerian Pertanian),” kata Masa Tenaya saat dihubungi, Sabtu (1/2/2020).
Dikatakannya, yang paling penting dilakukan pemerintah saat ini adalah memberikan penyuluhan bagi masyarakat peternak, sehingga bisa melakukan pencegahan terhadap kasus kematian babi yang terus terjadi ini.
Apa yang menjadi kendala sehingga pengumumannya menjadi lama, ia hanya menjawab secara normatif.
“Tergantung (hasilnya) di Medan. Untuk kita di Bali mungkin yang perlu dilakukan sudah terlibat membuat vaksinnya,” ujarnya.
Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Udayana, Prof I Gusti Ngurah Kade Mahardika menjelaskan, sebenarnya pengujian laboratorium itu tidak sampai 24 jam sudah bisa diselesaikan.
Dirinya mewakili Universitas Udayana (Unud) mengaku ikut dilibatkan dalam pembuatan vaksin penyakit ASF tersebut di Surabaya, Jawa Timur.
Vaksin itu kemungkinan selesai dalam waktu dua bulan karena masih memerlukan beberapa proses pengujian.
“Kita mulai pengujian lapangan tanggal 15 Februari di Medan. Itu perlu waktu satu bulanan, ya lagi dua bulan baru ada (vaksinnya),” kata Prof Mahardika.
Namun, tidak ada yang bisa menjamin kelak vaksin itu bisa digunakan untuk membunuh virus ASF.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/kepala-balai-besar-veteriner-bbvet-denpasar-i-wayan-masa-tenaya.jpg)