Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Mantan Kepala SMKN Bali Mandara Raih Hadiah Sastera Rancage 2020 Kategori Sastra Bali

Peraih penghargaan Sastera Rancage 2020 untuk kategori sastra Bali Modern merupakan sastrawan Ida Bagus Pawanasuta

Tayang:
Penulis: Putu Supartika | Editor: Irma Budiarti
Foto Prof Dr I Nyoman Darma Putra
Penyerahan Hadiah Sastera Rancage 2020 kepada Ida Bagus Pawanasuta (paling kanan) dan penulis lainnya di Bandung. Mantan Kepala SMKN Bali Mandara Raih Hadiah Sastera Rancage 2020 Kategori Sastra Bali 

Mantan Kepala SMKN Bali Mandara Raih Hadiah Sastera Rancage 2020 Kategori Sastra Bali

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Hadiah Sastera Rancage 2020 telah diumumkan, dan peraih penghargaan ini untuk kategori sastra Bali Modern merupakan sastrawan sekaligus mantan Kepala SMKN Bali Mandara, Ida Bagus Pawanasuta asal Klungkung.

Hadiah Sastera Rancage, merupakan sebuah penghargaan yang diberikan kepada penulis yang menulis sastra modern dengan menggunakan bahasa daerah seperti Sunda, Jawa, Batak, Lampung, Madura, maupun Bali, yang diberikan oleh Yayasan Kebudayaan Rancage yang bermarkas di Bandung, Jawa Barat, yang dibentuk sastrawan Ajip Rosidi.

Pawanasuta meraih penghargaan ini lewat novelet berbahasa Balinya yang berjudul Tresna Tuara Teked atau Kasih Tak Sampai.

Karya setebal 78 halaman ini menuturkan kisah kasih tak sampai dua pasang pemuda karena dua alasan berbeda.

Kisah pertama percintaan antara I Duduk dengan Luh Kinanti yang tidak bersambung karena dipisahkan oleh pendidikan dan karir berbeda kota.

Dan yang kedua kisah kasih tak sampai antara I Made Bungarta dengan Luh Cempaka gagal karena campur tangan negatif kekuatan guna-guna (black magic).

Ayah Bungarta hendak memasang guna-guna pada Cempaka agar mau kasih pada Bungarta, tetapi langkah itu gagal dan justru black magic itu akhirnya menyakiti ayah Bungarta, sedangkan Luh Cempaka yang imun dari serangan black magic akhirnya menjadi dukun sakti.

Hanya Cempakalah yang akhirnya mampu mengobati ayah Bungarta.

Sebelum itu, Cempaka sempat jatuh cinta pada Duduk, tetapi kalah pesona dengan Kinanti.

Kisah hidup Duduk cukup misterius tetapi sebagai tokoh utama atau hero dalam novelet ini, sejak awal dia memiliki kehebatan, mulai dari sebagai seniman serba bisa, mendapat anugerah kekuatan gaib di kuburan, dan selalu berhasil mengalahkan serangaan black magic terhadapnya.

Selain itu semua, dia juga tampan, dan menjadi rebutan beberapa perempuan.

Juri Sastera Rancage untuk Sastra Bali Modern, Prof Dr I Nyoman Darma Putra mengatakan novelet karya Pawanasuta ini ditulis dengan bahasa yang lugas, kalimat ringkas, namun dapat berbagi perasaan dengan baik dan dalam.

"Alur cerita mengalir jelas diwarnai konflik dan ketegangan di setiap bagian sehingga cerita memikat. Narasi cerita berhasil menyajikan latar budaya Bali yang kaya akan jenis seni pertunjukan. Kekhasan latar dalam novelet itu terungkap lewat berbagai isu black magic dan kekuatan gaib yang menjadi bagian dominan dalam sistem kepercayaan dan kehidupan sosial masyarakat Bali," kata Darma Putra, Minggu (2/2/2020).

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved