Putri Suastini Ajak Tim Penggerak PKK se-Bali Lakukan Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber
Putri Suastini Ajak Tim Penggerak PKK se-Bali Lakukan Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber
Penulis: I Wayan Sui Suadnyana | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Ketua Tim Penggerak Pembina Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Provinsi Bali Ni Luh Putu Putri Suastini mengajak pengurus PKK se-Bali untuk melakukan pengelolaan sampah berbasis sumber.
Hal dilakukan ini sesuai dengan kebijakan yang diterbitkan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali melalui Peraturan Gubernur (Pergub) Bali Nomor 47 tahun 2019 tentang Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber.
Menurut Putri Suastini, pengelolaan sampah berbasis sumber ini sangat bisa dilakukan oleh para pengurus PKK di Bali.
"Kan wilayah sampah itu ada di kabupaten (dan) kota, paling luas itu ada di tingkat desa," kata Putri Suastini ketika bertemu dengan sejumlah awak media di Rumah Jabatan Gubernur Bali, Minggu (2/2/2020).
• 6 Cara Menghindari Beragam Penyakit Akibat Terlalu Lama Menatap Layar Komputer
• Kamu Sering Masuk Angin ? Cobalah 7 Cara Sederhana Ini untuk Mengatasi Masuk Angin
• Jangan Panaskan 5 Makanan Ini agar Tidak Timbulkan Masalah Kesehatan, Termasuk Ayam Goreng
Istri Gubernur Bali Wayan Koster ini mengatakan, ke depan pengelolaan sampah harus diubah.
Dirinya memandang selama ini penanganan sampah sudah keliru.
"Sampah itu kok ya dipindah, bukannya diolah atau dienyah. Jadi kalau dipindah dia akan meledak suatu saat," tuturnya ditemani oleh Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Desa, Kependudukan, dan Pencatatan Sipil Provinsi Bali, Putu Anom Agustina.
Ia juga melihat mekanisme penanganan sampah seperti ini menimbulkan egoisme di kalangan masyarakat.
Sebab masyarakat jadinya menginginkan tempat atau rumahnya bersih, sementara menyebabkan kotornya lingkungan masyarakat lain.
Salah satu contoh, menurutnya, terjadi di Kota Denpasar yang melanda wilayah Suwung.
"Jadi tempat pembuangan sampah semeton di Suwung kan pedalem nika. Coba kalau sampah sudah dienyahkan dari di mana sumbernya," kata dia.
Menurutnya, sampah organik yang biasanya timbul dari dapur bisa diolah menjadi pupuk untuk kesuburan tanah.
Sementara untuk sampah non-organik bisa seminimal mungkin dicegah timbulannya.
Jika masyarakat sudah berpikir dua kali untuk membeli produk yang berbahan plastik maka penjual nantinya juga enggan menjual produk serupa.
"Begitu lingkarannya nanti, berbalik dia," kata Putri Koster yang juga sebagai Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali itu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ni-luh-putu-putri-suastini-bertemu-sejumlah-awak-media-di-rumah-jabatan-gubernur-bali.jpg)