Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Perkosaan di Bali

KPPAD Miris Melihat Kasus Pemerkosaan Anak Kembali Terjadi di Bali

Komisioner KPPAD Provinsi Bali sangat miris mendengar kasus pemerkosaan anak di bawah umur kembali terjadi di Bali

Penulis: I Made Prasetia Aryawan | Editor: Irma Budiarti
Stomp
Ilustrasi pemerkosaan anak di bawah umur. KPPAD Miris Melihat Kasus Pemerkosaan Anak Kembali Terjadi di Bali 

KPPAD Miris Melihat Kasus Pemerkosaan Anak Kembali Terjadi di Bali

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Komisioner Komisi Penyelenggara Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Provinsi Bali, I Made Ariasa sangat miris mendengar kasus pemerkosaan anak di bawah umur kembali terjadi di Bali.

Dengan kejadian ini, pihaknya di KPPAD Provinsi Bali mempertanyakan realisasi konkret pelaksanaan perlindungan anak yang ada di kabupaten/kota.

Sebab, sebelumnya kasus serupa juga terjadi di Kabupaten Gianyar, Badung, dan saat ini terjadi di Kabupaten Tabanan.

"Saya sangat miris dan sedih atas terulangnya kembali kasus kekerasan terhadap anak di bawah umur dalam bentuk pelecehan seksual," ujar Ariasa saat dihubungi, Rabu (12/2/2020).

Ariasa melanjutkan, semua unsur komponen perlindungan anak dilakukan, mulai dari keluarga, pendidikan formal, lingkungan masyarakat serta jenjang pemerintah.

"Kami di KPPAD berharap salah satu poin penting sebagai solusi atas pencegahan kasus seperti ini adalah peningkatan kualitas dan kuantitas pola asuh anak dan remaja yang lebih intens serta berkelanjutan. Sehingga nanti bisa benar-benar menjadi solusi nyata untuk menyelesaikan masalah maupun pencegahan lebih lanjut," harapnya.

Disinggung mengenai kelanjutan kasus ini apakah ada pendampingan hukum korban, Ariasa menyatakan pendampingan hukum dari pihak sipil akan diberikan lebih dulu oleh P2TP2A Tabanan untuk advokasi.

Jika nantinya diperlukan, tim KPPAD akan turun ke lokasi untuk pendampingan korban.

"KPPAD Provinsi Bali akan turun kalau perlu dilakukan pemantauan pengawasan atas upaya penyelesaian kasus tersebut," tegasnya.

Menurutnya, terkait kasus ini yang lebih diutamakan adalah mendorong seluruh lapisan masyarakat mulai dari keluarga, pemerintah, termasuk pendidikan agar menjadikan pengalaman kasus ini untuk meningkatkan perhatian dalam upaya pencegahan.

"Jangan sampai setelah ada korban, baru sibuk. Meskipun bukan anak kita yang menjadi korban, tidak ada salahnya kita ikut peduli dan berbuat sesuatu untuk anak-anak kita," tandasnya.

(*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved