Peluncuran Buku Le Petit Prince, Miliki Terjemahan Bahasa Bali
Museum Pasifika yang berada di kawasan ITDC Nusa Dua, Bali kembali mengadakan acara peluncuran buku Le Petit Prince, karya Antoine de Saint-Exuper
Penulis: Zaenal Nur Arifin | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Museum Pasifika yang berada di kawasan ITDC Nusa Dua, Bali kembali mengadakan acara peluncuran buku.
Buku yang kali ini diluncurkan di Museum Seni Asia Pasifik terbesar di Asia Pasifik itu, adalah sebuah buku cerita anak klasok dari negeri Perancis yang sudah sangat terkenal yakni Le Petit Prince, karya Antoine de Saint-Exupery.
Peluncuran diadakan pada hari Senin, tanggal 10 Februari 2020 kemarin dan dihadiri sejumlah tamu baik dari Pemda Badung maupun Provinsi Bali.
Buku ini telah diterjemahkan kedalam kurang lebih 400 bahasa dari beberapa negara.
• Rest Area Rp 1 Miliar Lebih Tak Beroperasi, Proyek Toilet dan Pavingisasi Telan Anggaran Rp 300 Juta
• Geger Temuan Mayat di Lereng Gunung Agung, Diduga Perempuan Telanjang & Kondisi Mengenaskan
• Begini Himbauan Imigrasi Ngurah Rai Kepada WN China Yang Masih di Bali
Diantaranya dalam bahasa Spanyol, Rusia, Belanda, Swedia, Vietnam Italia, Cina dan masih banyak lagi.
Dan kali ini Bahasa Bali mendapat kehormatan sebagai bahasa yang dipakai untuk menceritakan kisah dari buku terkenal itu.
Terbitnya buku ini tidak lepas dari banyak pihak yang turut membantu dalam prosesnya.
Sebut saja Alliance Francaise Bali, Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebagai ahli Bahasa Bali yakni Cokorda Sawitri dan sebagai Ahli Aksara Bali adalah Dharma Putra, serta Mr. Pascal Hierholz sebagai penerbit buku.
Mr. Philippe sebagai Founder dari Museum Pasifika akan sebagai tuan rumah acara peluncurannya.
“Peluncuran buku ini merupakan salah satu bagian dalam acara Festival Bulan Bahasa bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. Dan mendapat dukungan penuh dari 8 seniman dari tanah air dan mancanegara,” imbuh Mr. Philippe melalui keterangan tertulisnya, Selasa (11/2/2020).
8 seniman yang dimaksud adalah Pascal Hierholz (Perancis), Dr. I Wayan "Kun" Adnyana (Bali), John Van der Sterren (Belanda), .tango Paramartha (Bali), Putu Pinky Sinanta (Bali), Lala Tamara (Jakarta),I Gusti Nyoman Dharta (Bali), serta Budi Karyono (Bali).
Dan khusus untuk acara peluncuran buku Raja Cenik ini, para seniman tersebut membuat karya-karya seni berupa lukisan yang terinspirasi dari bukunya.
“Diharapkan dengan terbitnya buku Raja Cenik yang tidak hanya diterjemahkan dalam Bahasa Bali, tapi juga ditulis dalam aksara Bali, akan menginspirasi para generasi muda Bali khususnya, untuk lebih mencintai Bahasa dan aksara Bali dan dengan kebanggaan itu akan melahirkan karya-karya berkelas dunia nantinya,” ungkap Mr. Philippe.
Acara perhelatan kali ini turut serta dihadiri oleh Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Kepala Dinas Pendidikan dan Olah Raga Badung, yang mewakili Bupati Badung, serta beberapa tamu undangan lain.
Sebelum acara utama dimulai, diadakan lomba mengambar yang diikuti oleh murid kelas 6 dari Sekolah Dasar Negeri 8 Benoa.
Dimana pada lomba ini pun mengambil tema dari buku Raja Cenik.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/peluncuran-buku-le-petit-prince.jpg)