Pemerintah Cuma Jadi Penonton, Lambat Antisipasi Wabah Babi, Dugaan Virus ASF Makin Meluas di Badung
Peternak melontarkan kritik pedasnya kepada pemerintah dalam penanganan kasus babi mati mendadak di Bali
Penulis: I Made Prasetia Aryawan | Editor: Irma Budiarti
Pemerintah Cuma Jadi Penonton, Lambat Antisipasi Wabah Babi, Dugaan Virus ASF Makin Meluas di Badung
TRIBUN-BALI.COM, BALI - Peternak melontarkan kritik pedasnya kepada pemerintah dalam penanganan kasus babi mati mendadak di Bali.
Mereka menilai pemerintah cenderung membiarkan ribuan babi peternak mati.
Pemerintah dalam hal ini Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan) hanya menjadi penonton saat dugaan virus mulai merebak di Bali.
Setelah sekarang ribuan babi mati mendadak di Bali, pemerintah baru sibuk menggelar sosialiasi tentang kesehatan ternak babi.
Seperti acara sosialiasi yang dirangkaikan makan babi guling bersama di Kecamatan Marga, Tabanan, Bali, Rabu (12/2/2020).
Sebelumnya acara makan babi guling bersama juga dilakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali di Kantor Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bali di Denpasar, Bali, Jumat (7/2/2020) lalu.
Dalam sosialiasi di Kantor Camat Marga, kemarin, peternak babi asal Desa Tegal Jadi, Putu Setiawan, sangat mengapresiasi acara ini dengan mengajak masyarakat tak takut makan daging babi dan menyemangati peternak pasca diserang kasus kematian babi secara mendadak di Bali, khususnya di Tabanan.
Namun, yang menjadi catatan adalah pergerakan pemerintah saat sebelum ada virus ini.
Apalagi, kasus ini sudah ditemukan mulai akhir Desember 2019 yang pertama kali menyasar Desa Jegu, Kecamatan Penebel.
Sebelumnya di awal Desember 2019 kasus kematian sejumlah babi secara mendadak terjadi di Pesanggaran, Denpasar.
Sempat menjadi viral di media sosial dan disebut-sebut terkena virus ASF, namun dibantah Dinas Pertanian.
Menurut Putu Setiawan, ketika virus sudah mulai menyebar di Desa Jegu, pemerintah tak melakukan antisipasi dengan baik.
Akibatnya, virus menyebar ke tiga kecamatan yakni Penebel, Baturiti, dan Marga.
"Apa yang dipaparkan dan dilakukan Dinas Pertanian saat kasus ini baru muncul, menurut saya cuma sebagai penonton. Tindakan riil tak ada untuk pencegahan virus ini. Minimal saat itu ketika mengetahui ada kasus langsung melakukan sosialisasi seperti misalnya di Kecamatan Marga agar peternak bisa mengambil langkah antisipasi virus itu masuk ke wilayah kami," sentilnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/petugas-balai-besar-veteriner-denpasar-mengambil-sampel-darah-babi.jpg)