Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Hari Raya Galungan

Ramai Isu ASF, Hari Penampahan Galungan Krama Pilih Mapatung Dibanding Beli Babi di Pasar

“Guwik...guwik...guwik....” jerit babi saat telinga dan keempat kakinya ditarik lalu dipelanting

Tayang:
Penulis: Eka Mita Suputra | Editor: Ady Sucipto
Tribun Bali/Eka Mita Suputra
Sejumlah warga dari Desa Lokasari, Sidemen, Kabupaten Karangasem Bali, ngejuk celeng di desanya, Senin (17/2/2020). Babi ini dipakai untuk mapatung jelang Hari Raya Galungan. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Hari beranjak sore di Desa Lokasari, Sidemen, Karangasem, Senin (17/2).

Beberapa krama laki-laki tampak bersemangat untuk ngejuk celeng (menangkap babi) di rumah seorang warga.

Ada membawa tali dan pisau, serta sepotong bambu untuk digunakan mengangkat babi dari kandangnya.

“Guwik...guwik...guwik....” jerit babi saat telinga dan keempat kakinya ditarik lalu dipelanting. Mulut dan kaki babi diikat, kemudian diangkat pakai bambu.

Rasa lelah bercampur kecerian mewarnai para anggota ngejuk celeng ini.

Ada yang tenaganya terkuras setelah bergulat dengan sang babi. Sedang sejumlah pemuda yang turun ke kandang terkena kotoran babi

Babi tersebut akan dipakai mapatung pada hari Panampahan Galungan, Selasa (18/2) hari ini.

Tradisi mapatung menjadi pilihan warga di tengah ramainya isu African Swine Fever (ASF) atau demam babi yang tengah melanda Bali.   

Tak hanya di wilayah Sidemen, di berbagai banjar lainnya juga menggelar tradisi mapatung untuk menyambut Hari Raya Galungan, Rabu (19/2).

Bagi krama Bali, mapatung dianggap lebih aman daripada membeli daging babi di pasar di tengah guncangan virus ASF.

"Justru dengan mapatung ini lebih aman. Kami bisa memilih sendiri untuk membeli babi yang sehat, dan dari peternak yang memang sudah kami percaya," ujar Putu Wirayasa, warga asal Kelurahan Semarapura Kelod Kangin, Klungkung, Senin (17/2).

Kegiatan mapatung ini rutin dilakukan krama Bali tiap enam bulan untuk merayakan Galungan.

Tidak ada keraguan bagi krama Bali untuk tetap mebat, meski ada isu ASF yang menyebabkan babi di beberapa daerah terjadi wabah babi mati.

"Jika kita membeli babi yang sudah dipotong di pasaran tentu ada rasa takut, karena tidak tahu asal-usul babinya. Tapi kalau mapatung ini, kita yang menentukan dan ambil langsung babi dari peternaknya. Jadi menurut saya lebih aman mapatung," tambah Wirayasa, sembari memotong daging babi bersama sejumlah rekannya.

Biasanya babi dipilih dan disembelih sehari sebelum hari Penampahan Galungan.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved