Serba Serbi

Umanis Galungan Tak Hanya Bersenang-senang ke Tempat Wisata, Namun Juga Tangkil ke Pura Kawitan

saat Umanis Galungan bukan hanya bersenang-senang secara niskala saja, namun juga perlu keseimbangan antara religius dan spiritual sekala dan niskala

Penulis: Putu Supartika | Editor: Irma Budiarti
Tribun Bali/Rizal Fanany
Ilustrasi umat Hindu sembahyang. Umanis Galungan Tak Hanya Bersenang-senang ke Tempat Wisata, Namun Juga Tangkil ke Pura Kawitan 

Umanis Galungan Tak Hanya Bersenang-senang ke Tempat Wisata, Namun Juga Tangkil ke Pura Kawitan

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Sehari setelah Hari Raya Galungan, umat Hindu merayakan Umanis Galungan, tepatnya pada Kamis (Wraspati) Umanis wuku Dunggulan.

Dalam merayakan Umanis Galungan ini, biasanya masyarakat akan melakukan berbagai aktivitas, salah satunya yakni silaturahmi dengan sanak keluarga, melukat, dan adapula yang mengunjungi tempat wisata.

Namun, perayaan Umanis Galungan ini tak hanya dilakukan dengan melakukan aktivitas secara sekala, seperti silaturahmi ataupun ke tempat wisata, akan tetapi perlu diimbangi dengan aktivitas niskala.

Hal ini diungkapkan Wakil Ketua PHDI Bali, Pinandita Ketut Pasek Swastika saat dihubungi, Kamis (20/2/2020) pagi.

Yang Berbeda dari Galungan di Tenganan Pegringsingan Karangasem: Tanpa Penjor dan Bau Dupa

Makna Galungan Menurut Pemangku Pura Agung Jagatnatha, Ada Tahapan-Tahapan Menuju Dharma

“Manis Galungan kita mengucapkan rasa angayubagia dengan bersenang-senang, dengan silaturahmi. Ini wujud rasa bahagia kita setelah merayakan kemenangan dengan mengunjungi tetangga, saudara, keluarga dan diakhiri melakukan persembahyangan ke Pura Kawitan atau pedarman. Itu mesti dilaksanakan,” katanya.

Sehingga kata ngiring melancaran saat Umanis Galungan bukan hanya bersenang-senang secara niskala saja, namun juga perlu keseimbangan atau harmonisasi antara religius dan spiritual sekala maupun niskala.

“Karena itu, kalau kita di Bali dan dekat dengan pedarman, tangkil ke sana. Kalau misalnya tidak bisa, lakukan sembah bakti di merajan masing-masing, nah itulah makanya di merajan ada palinggih Padmasari yang ada ornamen angsanya,” katanya.

“Poinnya merayakan kemenangan, merasa angayubagia, terbebas dari pengaruh Sang Tiga Buta, Tri Mala, Sad Ripu, Sapta Timira, Dasa Mala dalam keseharian,” imbuhnya.

Esok yakni saat Paing Galungan, umat Hindu memulai kehidupan baru yakni kehidupan yang terhindar dari sifat-sifat bhuta.

Lahir Umanis Galungan, Dermawan Walaupun Rezekinya Kecil

Berkah Galungan Bagi Pedagang Sate Babi di Pura Jagatnatha Denpasar

Sehingga dalam hal ini ada konsep Tri Semaya, yakni kemarin, sekarang dan besok.

Kemarin saat Galungan merayakan hari kemenangan dharma melawan adharma, dimana secara harfiah Galungan berasal dari kata galung yang artinya menang, ngegalung yakni merayakan kemenangan, dan galungan berarti kemenangan.

“Kemarin kita menang dari adharma, dimana adharma itu adalah awidya. Secara ritual dirayakan dengan nanceb penjor sebagai wujud rasa syukur atas kemakmuran, saat penampahan juga kita membunuh segala sifat awidya dan menghindarkan diri dari Sang Tiga Bhuta. Lalu saat Galungan diawali dengan persembahyangan di rumah, yakni di sanggah panegtegan, pakamulan, baru di sanggah i bapa atau yang dibuat orangtua, lalu ke pemaksan, dadia, panti dan dilanjutkan ke pura di desa pakraman,” katanya.

Sehingga setelah perayaan Galungan, kini dirayakan Umanis Galungan.

“Karena sekarang kan maknanya banyak yang bergeser, bahwa Umanis Galungan itu melali ke objek wisata, itu kan baru sekala, sehingga harus ada juga niskalanya dengan melakukan persembahyangan ke Pura Kawitan,” katanya.

(*)

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved