Breaking News:

Ngopi santai

Kearifan dari Bibir Sungai

Kalau wajah gunung yang empunya sumber mata air itu murung, maka jauhilah sungai

(Dok.Pusdalops DIY)
Evakuasi siswa SMP Negeri di Turi Sleman yang hanyut terbawa arus Sungai Sempor, Dukuh Donokerto Turi, Jumat (21/2/2020) 

SAYA selalu bersyukur sampai kapan pun karena menghabiskan masa kecil yang indah di bibir dua sungai, Lowo Ria dan Lowo Tulu.

Tentu nama itu senyap bagi sebagian orang termasuk mereka yang mendiami wilayah Kabupaten Ende di Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dua sungai cilik itu mengapit Kampung Mulawatu, desa Fatamari, Kecamatan Lio Timur, Kabupaten Ende.

Watuneso adalah ibu kota kecamatan Lio Timur sehingga teman sekampungku kerap bangga menyebut diri sebagai anak Wanes--akronim Watuneso.

Lowo Ria merupakan induk sungai yang mempertemukan tirta dari sejumlah anak sungai termasuk Lowo Tulu.

Daerah Aliran Sungai (DAS) ini membentang kira-kira 16 kilometer dari pegunungan Ndura Nenda sampai pantai selatan Pulau Flores.

Airnya menghidupi mereka yang menghuni Kampung Wolonio, Mulawatu, Detuweru, Deturau, Aemalu, Watureajawa, Alo, Ngebondana, Puujita, Watuneso, Kolijana hingga Ase.

Lowo Ria dan Lowo Tulu menjadikan Kampung Mulawatu elok nian berhiaskan kelokan sungai yang mengalir sampai jauh hingga bermuara di Lia Tola, pantai selatan Flores yang ombaknya doyan bergemuruh riuh.

Letak muara Lowo Ria hanya selemparan batu dari Pantai Koka yang tersohor itu.

Hidup dalam lingkungan sungai membuat masa bocahku karib dengan hal yang boleh dan tidak boleh.

Halaman
1234
Penulis: DionDBPutra
Editor: Huda Miftachul Huda
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved