Kematian Babi di Buleleng

Babi Mati Terus Bertambah, Distan Buleleng Catat Kematian Capai 294 Ekor

Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Buleleng mencatat jumlah babi yang mati sudah sebanyak 294 ekor sampai hari Senin (2/3/2020).

Tribun Bali/I Made Ardhiangga Ismayana
Dua babi milik Gede Eka yang masih hidup berada di sebelah kandang babi mati yang nampak kosong, Kamis (6/2/2020). 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Buleleng mencatat jumlah babi yang mati sudah sebanyak 294 ekor sampai hari Senin (2/3/2020).

Namun, Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan Distan Buleleng, I Made Suparma mengatakan Pemerintah belum berani memastikan penyebab kematian ratusan babi tersebut, karena  belum menerima hasil Lab dari Balai Besar Veteriner Denpasar.

Dikatakannya sampai saat ini wilayah yang belum terkena kasus kematian babi ada di wilayah Kecamatan Busungbiu dan Sukasada.

Disisi lain pihaknya akan terus melakukan antisipasi agar kasus tersebut tidak meluas. Salah satunya dengan mengimbau kepada masyarakat untuk memperhatikan kebersihan kandang, serta menyebarkan cairan disinfektan.

Hingga saat ini, Suparma menyebut jumlah cairan disinfektan yang telah disebarkan ke peternakan rumahan sudah sebanyak 960 liter.

Pihaknya berencana akan menambah lagi stok cairan disinfektan itu, melalui anggaran yang dimiliki sehingga masyarakat dapat memperoleh cairan diisinfektan lewat penyuluh lapangan.

"Petugas lapangan ada beberapa yang belum melapor. Data sementara baru 294 ekor. Mudah-mudahan warga mau mengikuti anjuran kami dengan menyemprotkan cairan disinfektan di kandang-kandang babinya," terang  Suparma saat ditemui di kantor DPRD Buleleng.

Disinggung terkait penyebab meluasnya wabah kematian babi ini, Suparma menduga hal ini terjadi karena ada beberapa pedagang yang mengambil babi di daerah lain yang sebelumnya telah memiliki kasus kematian babi sehingga penyakit tersebut meluas di Buleleng.

"Buleleng mulai terkena wabah ini di bulan Januari. Jadi kemungkinan ada pedagang yang ngambil babi di daerah luar, tidak tau apakah babi itu memiliki penyakit, lalu di potong di Buleleng. Sehingga wabah ini menyebar. Kami tidak ingin menyalahkan siapa-siapa, yang panting kami harus menanggulangi ini secara cepat," jelasnya.

Sementara untuk hasil lab dari Balai Veteriner Denpasar hingga saat ini ditegaskan Suparma belum diterima.

Kendati hasilnya sudah keluar, yang berhak untuk mengumumkan hasil lab itu adalah pihak Kementerian.

 “Itu sudah diatur di Undang-undang, yang berhak mengumumkan hanya menteri. Bupati atau Gubernur tidak memiliki kewenangan. Kasus seperti ini juga terjadi di luar Bali. Namun yang ramai diberitakan di Bali, karena yang namanya Bali harus ada babi," tegasnya. (*)

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved