Breaking News:

5 Fakta Ogoh-ogoh di Bali, Sejarah Hingga Perkembangannya

Berikut adalah lima fakta tentang ogoh-ogoh yang biasanya diarak saat malam pengerupukan atau sehari sebelum Hari Raya Nyepi di Bali.

Tribun Bali/Ahmad Firizqi Irwan
Dok. Tribun Bali - Ogoh-ogoh Sang Maungpati karya ST Banjar Gemeh Indah, Banjar Gemeh, Dauh Puri Kangin, Denpasar Barat, Bali. 

TRIBUN-0BALI.COM - "Ogah-ogah, ogoh-ogoh, kala-kali lumamapah / ogah-ogah, ogoh-ogoh, ngiterin desa...”

Demikian penggalan lirik lagu "Ogoh-ogoh" yang kerap menjadi 'lagu wajib' menjelang Hari Raya Nyepi di Bali.

Sementara itu, para pemuda Bali yang tergabung dalam wadah sekaa teruna juga sedang mempersiapkan ogoh-ogoh di banjar mereka masing-masing.

Ogoh-ogoh itulah yang nantinya akan diarak keliling desa saat hari pengerupukan atau sehari sebelum Hari Raya Nyepi, yang tahun ini jatuh pada 25 Maret 2020.

Diolah dari berbagai sumber, berikut adalah lima fakta tentang ogoh-ogoh di Bali:

1. Tak Berkaitan dengan Tawur Kesanga
Pengarakan ogoh-ogoh biasanya dilakukan usai digelarnya prosesi Tawur Kesanga atau ‘Nyomyang Bhuta’.

Ogoh-ogoh sebenarnya tidak memiliki hubungan langsung dengan perayaan Hari Raya Nyepi.

Artinya, meskipun pawai ogoh-ogoh ditiadakan, perayaan Hari Raya Nyepi tetap dapat berjalan.

Hanya saja, karena sudah dilakukan setiap tahun, banyak orang Bali yang merasa perayaan Hari Raya Nyepi kurang lengkap jika tidak diawali dengan pawai ogoh-ogoh.

2. Muncul Tahun 1980-an
Jika dilihat dari latar sejarah, ogoh-ogoh pertama di Bali muncul sekitar tahun 1980-an.

Halaman
123
Penulis: Widyartha Suryawan
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved