Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

5 Fakta Ogoh-ogoh di Bali, Sejarah Hingga Perkembangannya

Berikut adalah lima fakta tentang ogoh-ogoh yang biasanya diarak saat malam pengerupukan atau sehari sebelum Hari Raya Nyepi di Bali.

Penulis: Widyartha Suryawan | Editor: Eviera Paramita Sandi
Tribun Bali/Ahmad Firizqi Irwan
Dok. Tribun Bali - Ogoh-ogoh Sang Maungpati karya ST Banjar Gemeh Indah, Banjar Gemeh, Dauh Puri Kangin, Denpasar Barat, Bali. 

Lalu, ada pula yang berpendapat bahwa ogoh-ogoh terinspirasi dari tradisi Ngusaba Ndong-Nding di Desa Selat Karangasem.

3. Ajang Berekspresi
Pawai ogoh-ogoh saat malam pengerupukan di Bali telah menjadi wadah berekspresi, khususnya bagi para yowana di Bali.

Biasanya, mereka mengangkat kisah mitologis untuk kemudian dituangkan ke dalam wujud ogoh-ogoh.

Tak jarang juga mereka mengangkat tema sehari-hari yang kerap digunakan sebagai ekspresi kritik terhadap fenomena sosial.

Selain sebagai ajang berekspresi, pembuatan ogoh-ogoh di masing-masing banjar juga menjadi wujud kebersamaan; mulai dari proses pembuatan hingga pementasan saat malam pengerupukan.

4. Kampanye Ramah Lingkungan
Saat ini para sekaa teruna di Bali kembali menggunakan bahan-bahan ramah lingkungan seperti bambu dalam proses pembuatan ogoh-ogoh mereka.

Sebelumnya banyak yang membuat ogoh-ogoh di Bali menggunakan stayrofom dan spons yang tidak ramah lingkungan.

Kedua bahan tersebut tidak dapat terurai oleh bakteri yang ada di dalam tanah.

Di Denpasar, sejak tahun 2015 hingga saat ini penggunaan stayrofom dan spons busa tidak lagi diperbolehkan karena berbahaya untuk kesehatan.

Sejak itu pula, ogoh-ogoh ramah lingkungan mulai gencar dikampanyekan.

5. Terus Berkembang
Ogoh-ogoh di Bali setiap tahunnya terus berkembang.

Tidak hanya wujud atau tema yang diangkat semakin beragam, tetapi juga dalam hal inovasi.

Belakangan, marak ogoh-ogoh yang dibuat menggunakan teknologi mekanik dengan konsep robotik.

Hal tersebut memungkinkan beberapa bagian dari ogoh-ogoh bisa bergerak layaknya robot.

Di beberapa daerah seperti Badung, Denpasar, dan Gianyar, tema ogoh-ogoh juga kerap ditampilkan dalam bentuk fragmen tari.

Sehingga, saat malam pengerupukan, masyarakat tidak hanya menyaksikan pawai ogoh-ogoh, tetapi sekaligus tarian yang mengiringinya. (*)

Sumber: Tribun Bali
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved