Serba Serbi

Sejarah Singkat Prosesi Ngerebong di Pura Petilan Pengerebongan Denpasar

Ngerebong pada intinya merupakan sebuah peringatan suksesnya atau kejayaan raja-raja pada zamannya, berikut ini sejarah singkatnya

Penulis: Putu Supartika | Editor: Irma Budiarti
Tribun Bali/I Putu Supartika
Tradisi Ngerebong di Kesiman, Denpasar, Bali, Minggu (8/3/2020). Sejarah Singkat Prosesi Ngerebong di Pura Petilan Pengerebongan Denpasar 

Namun upacara berjalan dengan lancar.

Tradisi ini merupakan tradisi enam bulanan yang dilaksanakan seminggu setelah Umanis Kuningan atau tepatnya pada Redite (Minggu) Pon Medangsia.

Budayawan yang juga tetua Desa Adat Kesiman I Gede Anom Ranuara mengatakan, Ngerebong pada intinya merupakan sebuah peringatan suksesnya atau kejayaan raja-raja pada zamannya, yang dikemas dengan sistem relegi untuk memperkuat dan mengeksistensi keberhasilan raja saat itu.

“Karena dilihat dari Pura Petilan ini adalah senter upacara tempat upacara besar di Kesiman. Ini ritual atau pengilen atau prosesi dari sejarah kejayaan itu. Dimana Raja Kesiman sempat melaksanakan ekspansi ke Sasak, Lombok,” katanya.

Ekspansi tersebut dilakukan dengan tiga tahap yakni penyerangan, penggempuran dan keberhasilan.

Untuk keberhasilan penggempuran ada beberapa ritual di Pura Uluwatu yang dilakukan raja, dan ada beberapa kaul untuk dapat kesuksesan.

Pertama, raja memohon ke Pura Uluwatu dan dianugerahi keris bernama Ki Cekle.

Dengan menggunakan keris itu Sasak pun ditaklukkan.

“Sasak tak mau mengalah dan meminta diadakan adu jangkrik. Raja menerima dan menggunakan jangkrik betulan, tapi di sana menggunakan jangkrik siluman sehingga sempat kalah, dan kembali ke Uluwatu biar menang adu jangkrik,” jelasnya.

Saat itu konon ada sabta sesuhunan di Pura Uluwatu yang meminta raja ngereh lemah atau ngereh siang hari.

Raja menyanggupi dan setelah itu raja diminta mengambil pemicu (pengilitan) jangkrik di Pura Muaya Jimbaran, mencari makanannya di Pura Dalem Kesiman berupa jepun putih, dan jangkrik berupa jangkrik kuning diambil di Padanggalak.

“Jangkrik diadu di sana, berubah jadi Banaspati, mengalahkan jangkrik siluman dan terbakar. Sebelum ada adu, ada perjanjian kalau Kesiman kalah akan diambil Sasak, dan jika Kesiman menang, Bugis dan Sasak akan dibawa ke Kesiman,” katanya.

Ekspansi tersebut terjadi sekitar tahun 1860, dan sejak saat itu dilaksanakan upacara ngerebong yang merupakan upacara syukuran, yang awalnya dilakukan di Puri Kesiman sebelum dipindah ke Pura Petilan Pengerebongan.

Berdasarkan catatan Belanda, era tahun itu kendali politik Bali dan Lombok memang berada di Kesiman

Akan tetapi saat adanya Puputan Badung, pelaksanaan ngerebong sempat berhenti beberapa waktu.

Halaman
123
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved