Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Ini Tips Parenting Agar Anak Menjadi Cerdas, Jangan Dikte Hingga Memaksimalkan Teknologi

Anak yang cerdas pun dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti faktor biologis dan eksternal, tips parenting anak untuk menciptakan anak yang cerdas

Gambar oleh Chhumvichhouk Rounh dari Pixabay
Foto ilustrasi anak-anak sedang belajar di ruang terbuka 

TRIBUN-BALI.COM - Hampir semua orangtua menginginkan punya anak yang cerdas.

Namun untuk mencapai hal tersebut orangtua tidak bisa mengandalkan sekolah saja, para orangtua harus meluangkan waktu untuk mengajar dan menemani anak belajar di rumah.

Anak yang cerdas dipengaruhi oleh beberapa faktor.

Seperti faktor biologis dan eksternal.

TNI-Polri Diusulkan Hengkang dari Papua Hindari Perang dengan KKB Papua, Mahfud MD: Enggak Mungkin

All England 2020, Hari Ini Empat Wakil Indonesia Berjuang Lolos ke Semifinal

Kisah Sedih Aktor Italia Terjebak Bersama Jenazah Korban Corona Selama 24 Jam, Begini Keluhnya

Faktor biologis sendiri dipengaruhi oleh banyak hal, misalnya genetik ibu dan ayah, nutrisi yang dikonsumsi ibu selama masa kehamilan, maupun penyakit yang diderita ibu hamil atau anak itu sendiri.

Sementara itu, faktor eksternal juga berpengaruh pada IQ anak.

Faktor ini dapat berupa gaya parenting anak dan lingkungan tempat anak bersosialisasi.

Tips parenting anak untuk menciptakan anak yang cerdas

Menciptakan anak yang cerdas tidak cukup dengan membelikannya mainan-mainan edukatif atau memasukkannya ke sekolah yang bagus dan mahal.

Sebaliknya, anak cerdas lahir dari pola parenting anak yang tepat dan efektif dari proses yang panjang dan kompleks.

Berikut tips parenting untuk menciptakan anak yang cerdas seperti disarankan oleh para psikolog.

Jangan dikte anak

Anak cerdas akan lahir ketika ia dibiarkan untuk mengembangkan imajinasi dan bermain sesuka hati.

Anda mungkin tergoda untuk mengatur jadwal anak sedemikian rupa agar ia mendapatkan skill yang berguna untuk mengasah otak, tapi psikolog mengatakan hal itu justru keliru.

Bebaskan anak untuk melakukan yang ia suka, termasuk berinteraksi dengan gawai atau komputer.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved