Kecemasan Saat Pandemi Covid-19 Dapat Timbulkan Stres dan Depresi, Begini Cara Mengatasinya
Gangguan kecemasan selalu didasarkan pada dua kata: “Bagaimana Jika”, yang diikuti dengan scenario terburuk yang bisa dibuat oleh otak
TRIBUN-BALI.COM -Rasa takut dan cemas merupakan hal yang sering kita lihat pada sebagian masyarakat di tengah wabah Covid-19 atau virus Corona.
Beberapa hal bisa menyebabkan rasa cemas muncul, seperti penyebaran virus yang cepat, ekonomi yang turun hingga kekhawatiran terinfeksi.
Menjaga kesehatan fisik merupakan satu diantara cara untuk mencegah virus tersebut datang.
Namun kecemasan dapat mempengaruhi kesehatan mental kita, itu juga dapat berpengaruh pada kesehatan fisik.
• Selain Kurangi Kesepian, Ngobrol di Telepon Punya Manfaat Lebih Dibanding Chatting Saat Isolasi
• Ini 5 Hal Baik di Tengah Pandemi Covid-19 di Indonesia, Makanan Gratis Hingga Donasi APD
• Pemandu Lagu Ini Kerap Temani Tamu Asing & Cemas Tertular Covid-19, Kini Dipusingkan Sepi Job
Para dokter di Amerika Serikat menyebutkan, walau belum ada angka pasti, tetapi ada kenaikan gangguan cemas dan depresi pada pasien, terutama pada mereka yang sebelumnya sudah memiliki gangguan cemas.
Jenis kecemasan yang rentan dialami dalam kondisi tidak pasti seperti sekarang, yaitu obsessive-compulsive disorder ( OCD), gangguan kecemasan umum, gangguan kecemasan sosial, serta gangguan kecemasan perpisahan.
Karena saat ini para pakar kesehatan menyarankan agar kita selalu menjaga jarak minimal satu meter dengan orang lain, jenis kecemasan perpisahan mungkin yang paling akan dirasakan karena merasa terisolasi.
Gangguan kecemasan secara umum juga diperkirakan meningkat.
Ini wajar karena banyak orang yang merasa bingung dan stres karena keuangannya berantakan selama wabah, atau karena stres mengasuh anak di rumah.
“Gangguan kecemasan selalu didasarkan pada dua kata: “Bagaimana Jika”, yang diikuti dengan scenario terburuk yang bisa dibuat oleh otak,” kata psikolog Patrick McGrath seperti dikutip oleh Time.com.
Menurut psikiater Lahargo Kembaren kepada Harian Kompas (28/3/2020), rasa stres, bingung, cemas, dan panik, adalah reaksi psikologi wajar selama berlangsung krisis.
”Ketika kecemasan dan stres negatif terjadi berlebihan, mengganggu fungsi sehari-hari, dan menimbulkan penderitaan, itu indikasi munculnya gangguan cemas,” lanjutnya.
Kecemasan yang berlebihan itu terjadi jika muncul sejumlah gejala fisik dan psikologis yang sebelumnya tidak ada pada tubuh kita.
Gejala kecemasan
Gejala fisik yang tampak umumnya berupa jantung berdebar, napas pendek, sulit tidur atau menjaga tidur, waktu tidur kurang atau berlebih, mual, kembung, diare, kepala pusing atau terasa berat, kulit gatal, hingga otot tegang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ilustrasi-foto-wanita-yang-sedang-sedih-karena-stres.jpg)