Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Kecemasan Saat Pandemi Covid-19 Dapat Timbulkan Stres dan Depresi, Begini Cara Mengatasinya

Gangguan kecemasan selalu didasarkan pada dua kata: “Bagaimana Jika”, yang diikuti dengan scenario terburuk yang bisa dibuat oleh otak

Gambar oleh 1388843 dari Pixabay
Ilustrasi foto wanita yang sedang stres 

TRIBUN-BALI.COM -Rasa takut dan cemas merupakan hal yang sering kita lihat pada sebagian masyarakat di tengah wabah Covid-19 atau virus Corona.

Beberapa hal bisa menyebabkan rasa cemas muncul, seperti penyebaran virus yang cepat, ekonomi yang turun hingga kekhawatiran terinfeksi.

Menjaga kesehatan fisik merupakan satu diantara cara untuk mencegah virus tersebut datang.

Namun kecemasan dapat mempengaruhi kesehatan mental kita, itu juga dapat berpengaruh pada kesehatan fisik.

Selain Kurangi Kesepian, Ngobrol di Telepon Punya Manfaat Lebih Dibanding Chatting Saat Isolasi

Ini 5 Hal Baik di Tengah Pandemi Covid-19 di Indonesia, Makanan Gratis Hingga Donasi APD

Pemandu Lagu Ini Kerap Temani Tamu Asing & Cemas Tertular Covid-19, Kini Dipusingkan Sepi Job

Para dokter di Amerika Serikat menyebutkan, walau belum ada angka pasti, tetapi ada kenaikan gangguan cemas dan depresi pada pasien, terutama pada mereka yang sebelumnya sudah memiliki gangguan cemas.

Jenis kecemasan yang rentan dialami dalam kondisi tidak pasti seperti sekarang, yaitu obsessive-compulsive disorder ( OCD), gangguan kecemasan umum, gangguan kecemasan sosial, serta gangguan kecemasan perpisahan.

Karena saat ini para pakar kesehatan menyarankan agar kita selalu menjaga jarak minimal satu meter dengan orang lain, jenis kecemasan perpisahan mungkin yang paling akan dirasakan karena merasa terisolasi.

Gangguan kecemasan secara umum juga diperkirakan meningkat.

Ini wajar karena banyak orang yang merasa bingung dan stres karena keuangannya berantakan selama wabah, atau karena stres mengasuh anak di rumah.

“Gangguan kecemasan selalu didasarkan pada dua kata: “Bagaimana Jika”, yang diikuti dengan scenario terburuk yang bisa dibuat oleh otak,” kata psikolog Patrick McGrath seperti dikutip oleh Time.com.

Menurut psikiater Lahargo Kembaren kepada Harian Kompas (28/3/2020), rasa stres, bingung, cemas, dan panik, adalah reaksi psikologi wajar selama berlangsung krisis.

”Ketika kecemasan dan stres negatif terjadi berlebihan, mengganggu fungsi sehari-hari, dan menimbulkan penderitaan, itu indikasi munculnya gangguan cemas,” lanjutnya.

Kecemasan yang berlebihan itu terjadi jika muncul sejumlah gejala fisik dan psikologis yang sebelumnya tidak ada pada tubuh kita.

Gejala kecemasan

Gejala fisik yang tampak umumnya berupa jantung berdebar, napas pendek, sulit tidur atau menjaga tidur, waktu tidur kurang atau berlebih, mual, kembung, diare, kepala pusing atau terasa berat, kulit gatal, hingga otot tegang.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved