Perumda Pasar Denpasar Sebut 20 Persen Pedagang di Pasar Memilih Tutup, Kunjungan Turun 50 Persen

Kompyang mengatakan, pedagang yang merasa sudah memiliki tabungan cukup memilih berdiam diri di rumahnya.

Tribun Bali/I Putu Supartika
Suasana di Pasar Badung, Denpasar, Bali, beberapa pedagang memilih tutup lebih awal karena sepi pembeli, Kamis (2/4/2020). 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Perumda Pasar Sewaka Dharma mengatakan dampak virus corona ini membuat banyak pedagang yang memilih untuk menutup lapaknya di pasar.

Bahkan, rata-rata 20 persen pedagang di semua pasar di Denpasar memilih tak berjualan.

"Untuk suplai barang lancar di pasar yang kami kelola, cuman kecenderungan pedagang yang buka mulai menurun. Bahkan 15 - 20 persen pedagang memilih tutup," kata Direktur Utama Perumda Pasar Sewaka Dharma, IB Kompyang Wiranata dikonfirmasi Kamis (2/4/2020) siang.

Kompyang mengatakan, pedagang yang merasa sudah memiliki tabungan cukup memilih berdiam diri di rumahnya.

Beredar Video Viral Diduga Korban Covid-19, Ketua Satgas Covid-19 Gianyar Sebut Tidak Ada Laporan

Para Seniman Bali Turut Gerakkan Imbauan ‘Di Rumah Saja’ Melalui Karya

Selain itu, Kompyang juga mengatakan jika daya beli masyarakat mengalami penurunan dan memicu omzet para pedagang juga menurun.

"Daya beli masyarakat juga turun, ini berdampak pada penurunan omzet dari pedagang," katanya.

Rata-rata penurunan kunjungan ke pasar juga sampai 50 persen.

Sementara itu, untuk penerapan pembatasan operasional pasar masih tetap berjalan dimana pasar tutup pukul 21.00 Wita.

Pihaknya mengatakan hal ini akan terus berlangsung hingga kondisi kondusif dan ada perintah dari atasan yang dalam hal ini Walikota.

Selain itu, penerapan sistem belanja online di 11 pasar tradisional ini juga menurutnya sangat efektif mengurangi kerumunan warga di pasar.

Pihaknya kini juga tengah merancang program pemberian stimulus bagi para pedagang di pasar mengingat kondisi ekonomi yang menurun.

"Kami akan berikan semacam stimulus, namun masih kami kaji. Mungkin nanti berupa penundaan pembayaran sewa kios maupun los," katanya.

 Selain itu adapula opsi memberikan pedagang untuk mencicil biaya sewa atau pemotongan besaran biaya sewa.

"Kami dari Perumda Pasar juga memikirkan dampak ekonomi karena virus ini. Apalagi omzet pedagang menurun," katanya. (*)

Penulis: Putu Supartika
Editor: Wema Satya Dinata
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved