Serba Serbi Dirumahaja

DI RUMAH AJA : 'Mendadak Dangdut' Rasanyaaaa….

Program “Di Rumah Aja” untuk pencegahan penyebaran virus Covid-19 ini menjadikan belajar banyak hal. Positif maupun negatif. Mulai urusan dapur hingga

Ayu Sulistyowati
Ilustrasi : Sketsa seorang ibu saat 'di rumah aja'. Ibu menjadi one stop solution untuk semua yang ada di rumah. 

Penulis: Ayu Sulistyowati

Hari itu, Jumat (3/4/2020), sekitar pukul 11.00 Wita. Saya Ayu, ibu rumah tangga (42), warga Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali, menemani anak ketiga saya belajar, usai mengurus dapur dan rumah. Satu tangan saya memegang telepon seluler untuk memperlihatkan kepada anak saya tutorial dari guru nol kecil taman kanak-kanaknya. Satu tangan lainnya membantu membukakan halaman buku latihan yang harus anak saya kerjakan.

“Ma, ini PR (pekerjaan rumah-red) terakhir, kan?,” tanya anak ketiga yang nol kecil taman kanak-kanak kepada saya. Padahal, dua dari tiga tugas hari itu belum selesai dikerjakannya.

Tak berapa lama, anak kedua datang menghampiri saya yang masih sibuk dengan anak ketiga. “Ma, ini pertanyaan-pertanyaan soal agama Hindu ini, ehm…Mama bisa bantu, kan?” tanya si anak nomor dua yang duduk dibangku kelas IV sekolah dasar.

“Ya, Gus, nanti Mama bantu sebisanya, ya. Nanti kita sama-sama diskusi, ya…,” jawab saya menenangkan.

Eh, belum tuntas dengan si anak ketiga dan kedua, saya mendapati anak pertama yang kelas 1 sekolah menengah pertama atau kelas 7 juga ikutan meminta bantuan. “Ma, bu guru kasih tugas membuat video durasi minimal satu menit soal budaya Bali. Abis rekam, videonya diunggah ke instagram. Mama bantuin yah…,” kata anak pertama saya dengan nada merayu.

Hampir dua pekan terakhir ini, saya hampir "full" memantau anak-anak belajar di rumah. Semua serba belajar online alias daring. Tutorial melalui video, melalui tertulis, melalui aplikasi, dan semua melalui WhatsApp Group (WAG). Ting…ting…ting… pesan masuk WAG bagaikan jam dinding yang tengah berdenting setiap detiknya. Rasanya hidup mendadak seperti terteror bunyi WAG.

Isi pesan WAG pun beragam. Mulai dari satu kelas TK, satu kelas SD, satu kelas SMP itu mengirimkan tugas-tugas mereka. Ada foto, ada video, ada yang pagi, siang, sore hingga malam hari.

Orang tua yang masih bekerja di luar rumah ijin untuk mengirimkan tugas-tugas anaknya di malam hari. Mendadak pesan-pesan WhatsApp heboh setiap saat. Belum lagi antarteman kerjaan, antarsodara, antarteman kumpul, antartetangga saling mengirimkan informasi perkembangan virus Covid-19.

“Duh, bu… Stres rasanya malahan. Saya sebagai guru pusing juga gak bisa bertemu mengajar langsung ke anak-anak. Biaya kuota atau paket internet pun mendadak tiga kali lipat sekarang. Asli mendingan bertemu anak-anak saja, mengajar langsung saja sendiri… Saya kan juga punya anak yang juga butuh belajar online. Mendadak ribet ya, Bu?,” kata Noptah, guru taman kanak-kanak anak saya.

Halaman
12
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved