Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Orangtua Harus Membiarkan Anak Merasakan Kegagalan, Ini Alasannya

Orangtua dengan harapan tinggi yang tidak realistis dapat tanpa sadar membuat kecemasan dan ketakutan pada anak-anak mereka

Tayang:
Gambar oleh 5311692 dari Pixabay
Seorang ibu yang sedang membacakan cerita pada anaknya 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Banyak orangtua tidak ingin melihat anaknya mengalami kegagalan.

Sehingga mereka akan ikut turun membantu sang buah hati agar tidak gagal.

Padahal dari kegagalan anak dapat belajar sesuatu hal yang berharga.

Roda kehidupan tak selamanya di atas.

Pemerintah Diharapkan Publish Usia Penderita dan Angka ODP/PDP Covid-19 yang Meninggal Dunia

Duka Dari Dunia Medis, IDI Kembali Umumkan Dua Dokter Meninggal Dunia

Bisnis Penerbangan Kian Sulit Karena Virus Corona, Boeing Tawarkan PHK Untuk 161 Ribu Karyawan

Akan ada saatnya anak jatuh mengalami kegagalan.

Lalu, seberapa tangguh anak Anda menghadapi kegagalan?

Bagaimana Anda sebagai orangtua, mendukung anak sambil mengumpulkan kekuatan untuk bangkit kembali di hari-hari mendatang?

"Pada usia tertentu, manusia sudah harus terbiasa untuk memiliki keterampilan mengatasi masalah," kata dokter anak Edward Gaydos, DO.

“Pertanyaan sebenarnya adalah, bagaimana kita membantu anak-anak kita membentuk dan menafsirkan pengalaman? Saya pikir satu hal yang perlu kita lakukan adalah memberi anak-anak ruang yang nyaman untuk merasakan kegagalan, dan kemudian memberdayakan mereka untuk mencoba lagi.”

Bagaimana anak-anak belajar dari kegagalan?

Saat ini, banyak anak-anak merasakan tekanan yang tak terlihat tetapi terasa berat, mulai dari harus menjadi yang terbaik, mampu berdiri di puncak, dan untuk mengumpulkan penghargaan, beasiswa atau piala.

Yang harus dipahami orangtua adalah, kita tidak bisa selalu memenangkan posisi raja atau ratu setiap kali kita bermain.

“Orangtua dengan harapan tinggi yang tidak realistis dapat tanpa sadar membuat kecemasan dan ketakutan pada anak-anak mereka,” kata Gaydos.

“Daripada menciptakan lingkungan di mana mereka merasa perlu menang setiap saat, akan lebih sehat dan lebih realistis untuk mengharapkan kegagalan sesekali - terutama karena kita semua cenderung belajar lebih banyak dari kesalahan kita daripada dari kesuksesan,” lanjutnya.

Misalnya, jika Anda mengikuti kuis, Anda cenderung mengingat jawaban yang salah daripada mengingat jawaban Anda yang benar.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved