Puluhan Ekor Babi di Abang Karangasem Mati Setelah Muncul Bintik Merah, Penyebab Belum Diketahui
Gusti Ayu, pemilik babi asal Desa Abang, mengatakan, babi miliknya mati mendadak seminggu yang lalu.
Penulis: Saiful Rohim | Editor: Wema Satya Dinata
TRIBUN-BALI.COM, AMLAPURA - Kasus babi mati mendadak di Karangasem terus terjadi.
Terbaru, kasus babi mati mendadak terjadi di Desa / Kecamatan Abang.
Babi mati mendadak capai puluhan ekor, serta tersebar dibeberapa Banjar di Abang, seperti di Banjar Waliang, Abang Klod, dan Abang Jeroan.
Gusti Ayu, pemilik babi asal Desa Abang, mengatakan, babi miliknya mati mendadak seminggu yang lalu.
• Per Hari,Puluhan Pekerja Dirumahkan Urus UHC Akibat Jaminan Kesehatan Tak Lagi Ditanggung Perusahaan
• Pemkab Tabanan Siapkan Tempat Karantina per Kecamatan, Muspika Kerambitan Belum Temukan Tempat Ideal
Babinya mati bertahap, satu persatu. Induk serta anaknya mati tanpa sisa. Penyebabnya belum diketahui. Yang pasti babi miliknya tidak makan sehingga lemas, dan berujung kematian.
"13 ekor babi milik orang tua saya yang mati mendadak. Babi yang mati ini dipelihara (adasin) ke tetangga sebelah. Saya serta orang tua tidak bisa berbuat. Namanya musibah. Kerugian diperkirakan mencapai jutaan rupiah,"ungkap Gusti Ayu, Selasa (14/4/2020).
Perbekel Abang, I Nyomaan Sutirtayana menambahkan, babi warga yang mendadak mati di Desa Abang mencapai sekitar 50 ekor.
Pemiliknya sekitar 10 kepala keluarga (KK) tersebar di semua Banjar di Abang. Perekonomian menengah ke bawah. Tiap KK mengalami kerugian hingga jutaan rupiah.
"Yang baru tercatat sekitar 50 ekor babi mati mendadak. Kemungkinan akan terus bertambah. Kasus ini mulai melanda Desa Abang sejak April, hingga sekarang. Penyebabnya belum diketahui. Petugas kesehataan hewan belum bisa memastikannya,"jelas Sutirtayana, pria asal Kecamatan Abang.
I Nyoman Sutirtayana mengatakan, babi warga mati setelah muncul bintik - bintik merah ditubuh babi.
Babi juga tak mau makan. Persis kasus terjadi dibeberapa Kabupaten di Bali.
"Kasian warga. Sudah jatuh tertimpa tangga lagi. Banyak ternak warga mati ditengah merebaknya corona,"imbuhnya.
"Sebelum mati, babi tak mau makan dari tiga hari yang lalu. Ditubuhnya juga dapat bintik merah. Sempat diperiksa petugas kesehatan hewan (keswan) Kecamatan Abang, tapi belum dipastikan penyebabnya,"tambah Potag, sapaan akrab I Nyoman Sutirtayana.
Ditambahkan, petugas dari desa hanya melakukan penyemprotan cairan desinfektan ke kandang babi sesuai imbauan dari petugas kesehatan hewan.
Langkah ini dilakukan untuk memutus penyebaran virus babi. Minimal kematian babi secara mendadak di Desa Abang bisa ditekan, tak menyebar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/babi-milik-gede-eka-mati-mendadak.jpg)