Serba Serbi dirumahaja
'Learning from Home', Momentum Pendidikan Karakter
Banyak orang tua yang mulai mengeluh dengan kondisi ini. Selama ini mereka menyerahkan begitu saja proses pendidikan anaknya di sekolah.
Oleh: I Putu Yoga Purandina, M.Pd. (Dosen Jurusan Dharma Acarya, STAH Negeri Mpu Kuturan Singaraja)
Para orang tua lumayan disibukkan dengan pembelajaran daring selama pandemi Covid-19.
Selain harus bekerja dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga, sekarang ditambah dengan harus mengawasi putra-putrinya belajar di rumah.
Banyak orang tua yang mulai mengeluh dengan kondisi ini. Selama ini mereka menyerahkan begitu saja proses pendidikan anaknya di sekolah.
Beberapa orang tua malah acuh atau tidak mengetahui bagaimana proses pembelajaran anaknya di sekolah.
• THR untuk ASN Akan Cair Paling Cepat 10 Hari Sebelum Idul Fitri
• ‘POLNAS Peduli’ Serahkan Bantuan Alat Kesehatan Kepada Satgas Penanganan COVID-19 Provinsi Bali
• Masuk Wilayah Desa Adat Dalung Badung Wajib Pakai Masker, Pelanggar Akan Disanksi Hingga Dipulangkan
Pandemi ini seakan merubah situasi secara cepat dan tegas. Orang tua mau tidak mau harus mampu mengawasi putra-putrinya dalam proses pembelajaran daring yang diberikan oleh gurunya.
Di saat sperti ini hanya pembelajaran daring lah yang menjadi pilihan utama. Dalam pembelajaran daring anak harus mampu belajar secara mandiri di rumah masing-masing.
Guru mentransfer informasi yang dikemas secara menarik melalui perangkat atau aplikasi dan diterima begitu saja oleh siswa dengan diolah secara mandiri tanpa adanya kesempatan untuk berdiskusi secara masif kepada gurunya seperti layaknya kelas konvensional.
Orang tua sangat berperan mendampingi siswa dalam pembelajaran daring ini, terutama untuk kelas rendah.
Disamping itu, pengajaran secara daring mempunyai beberapa kelemahan. Kelemahan yang bisa kita temukan dalam pengajaran daring yaitu lemahnya motivasi belajar siswa, dimana harus memiliki budaya belajar mandiri yang kuat.
Kurangnya interaksi antara guru dan siswa, bahkan antar siswa itu sendiri juga merupakan sebuah kelemahan pembelajaran daring.
Kurangnya interaksi ini menyebabkan lambatnya terbentuknya nilai (value) dalam proses belajar mengajar.
Lambatnya pembetukan nilai ini akan mengakibatya kurang optimalnya perkembangan perilaku atau karakter anak.
Dengan demikian guru akan mengalami kesulitan dalam pembentukan perilaku atau karakter anak didiknya.
Di sinilah peran orang tua itu menjadi sangat vital. Mereka harus menyadari bahwa sejatinya pendidikan karakter itu sangatlah penting, bukan hanya sekedar mampu di bidang akademis dan keterampilan. Pendidikan karakter akan membuat anak lebih mandiri dalam menjalankan kehidupannya dan dapat beradaftasi dengan kondisi sosial yang ditemukannya suatu saat nanti.
Dalam kondisi normal sebelum pandemi ini, guru di sekolahpun kurang maksimal dalam pendidikan karakter, karena kenyataannya, anak lebih banyak berinteraksi di rumah.
Apalagi dengan kondisi sekarang ini dengan adanya pembelajaran daring maka guru sama sekali akan sulit melakukan hal ini.
Pendidikan karakter sejatinya memang harus dimulai dari keluarga, atau lebih optmal dikembangkan di rumah.
Selama ini para orang tua berdalih, bahwa kurangnya waktu interaksi dengan anak karena disibukan oleh pekerjaan.
Pekerjaan menjadi sebuah alasan kuat atas kegagalan pendidikan karakter di rumah. Mereka harus sadar akan pentingnya pendidikan karakter anak mereka.
Sehebat hebatnya ilmu atau keterampilan yang dikuasai oleh anak mereka tidak akan bermanfaat dengan baik jika tidak dibarengi dengan pendidikan karakter yang kuat.
Walaupun situasi di tengah pandemi ini menjadi beban psikis bagi kita, setidaknya situasi inilah akan menjadi momentum mulainya pendidikan karakter anak di dalam keluarga secara masif.
Sekarang saatnya para orang tua mempunyai waktu optial dalam mendampingi dan mengembangkan pendidikan karakter anaknya di rumah.
Kebijakan bekerja dari rumah, belajar dari rumah, dan berdoa dari rumah akan sangat memdukung momentum ini.
Dengan bekerja dari rumah para orang tua akan lebih maksimal mendampingi dan mendidik putra-putrinya dengan cinta kasih kebersamaan.
Orang tua sebagai life educator bertanggung jawab untuk memlihara dan membesarkan anaknya, melindungi dan menjamin kesehatan anaknya baik jasmani dan rohani, serta memberi pengajaran terutama pendidikan karakter sehingga nantinya memiliki akhlak yang mulia.
Adapun hal-hal yang harus diperhatikan oleh orang tua seperti misalnya praktik berprilaku, bertutur kata yang baik, tidak mengucapkan kata-kata kotor atau kasar, berjalan dengan sopan dan tidak sombong, patuh dan hormat kepada orang tua, mengatakan permisi ketika melewati orang lain serta dilakukan dengan tangan kanan, tidak ragu untuk meminta maaf jika merasa bersalah kepada orang lain, dan membuang sampah pada tempatnya, dll.
Namun dalam hal ini orang tua harus menjadi teladan bagi anaknya.
Ada tiga metode yang bisa diterapkan oleh orang tua di rumah.
Pertama adalah metode internalisasi, yaitu dengan memasukkan langsung pengetahuan mengenai nilai-nilai karakter yang baik kepada anak dengan memeberikan cerita/ dongeng, nasihat/ kalmat yang menyejukkan dari orang tua.
Kedua adalah metode keteladanan, yaitu metode dimana oran tua harus menjadi role model sehingga anak akan meniru keteladanan orang tuanya. Anak adalah peniru yang baik dimasanya. Metode ini bisa dikombinasikan dengan cara melakukan aktifitas bersama-sama seperti bermain bersama dan aktifitas rumah yang lainnya.
Metode ketiga adalah pembiasaan yang merupakan pengembangan dari metode keteladanan. Dimana dalam melakukan aktifitas bersama orang tua akan memberikan teladan yang baik kemudian ditirukan oleh anak secara terus menerus secara simultan dan menjadi kebiasaan.
Perilaku yang baik ini harus diberikan reward (penghargaan) untuk menguatkan perilaku baiknya sehingga menjadi kebiaasaan dan menjadi karakter yang baik. Sedangkan, perilaku yang tidak baik atau menyimpang akan diberikan punishment (hukuman) untuk memberikan batasan sejauh mana karate yang baik dapa diterima dalam lingkungannya. Hukuman yang dimaksud di sini adalah hukuman yang mendidik.
Memang bekerja dari rumah dan mengawasi anak belajar dari rumah sangat sulit untuk dilakukan. Namun hal tersebut bisa kita atasi dengan cara menentukan jadwal harian dan target harian.
Misalnya hari ini apa yang akan dikerjakan, dan jam berapa target itu harus selesai, serta jam berapa harus menemani anak dalam belajar dan memberikan quality time kepada mereka.
Waktu berharga yang kita habiskan bersama anak ini tidak mesti harus direncanakan atau dilakukan secara besar-besaran, namun cukup dengan hal sederhana yang bisa kita lakukan di rumah.
Seperti aktifitas rumah yang menyenangkan. Aktifitas inilah yang kita selipkan dengan pendidikan karakter tersebut.
Tidak dipungkiri memang masih ada orang tua yang tidak mempunyai kesempatan bekerja dari rumah. Namun jangan patah semangat.
Dengan kecanggihan teknologi saat ini kita masih bisa mengawasi atau membimbing anak kita dari jauh. Buatlah jadwal kegiatan yang memungkinkan untuk dilakukan oleh anak anda, dengan tetap mengontrol melalui gadget.
Dan ketika anda sudah sampai dirumah, luangkan waktu anda dengan berinteraksi dan membicarakan segala kegiatan yang dilakukan oleh anak anda. Jangan lupa berikan reward dan motivasi atas segala yang dilakukan oleh anak anda.
Manfaatkanlah situasi learning from home ini sebagai momentum pendidikan karakter anak di dalam keluarga. Semoga pandemi ini segera selesai dan keadaan pulih kembali, namun pendidikan karakter ini harus tetap ditumbuhkan dalam keluarga.(*)