Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Corona di Bali

Pandemi Covid-19 Lukiskan Kuta “Kota” Mati, Suasana Era 70-an Terasa

Virus corona disease atau Covid-19 mengubah hingar bingar kawasan emas Pulau Dewata, yakni Kuta, Legian, Seminyak

Tayang:
Tribun Bali/Adrian Amurwonegoro
Suasana di wilayah Jalan Pantai Kuta, Legian, Badung, Bali, Minggu (19/4/2020). 

Laporan wartawan Tribun Bali, Adrian Amurwonegoro

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Virus corona disease atau Covid-19 mengubah hingar bingar kawasan emas Pulau Dewata, yakni Kuta, Legian, Seminyak seperti saat sebelum ramai dikenal para turis, sepi, bak wilayah tak berpenghuni.

Minggu (19/4/2020) siang sekitar pukul 13.00 Wita, Tribun Bali melakukan pantauan lapangan, tampak jalanan Pantai Kuta yang biasanya pada aplikasi google maps relatif berwarna merah (padat) kali ini berwarna hijau (lengang).

Tak seperti hari Minggu sebelum adanya wabah Covid-19.

Kini hanya ada satu dua motor atau mobil yang hilir mudik di setiap waktunya.

Ramalan Zodiak Cinta 24 April 2020, Virgo Sangat Populer, Gemini Berbahagialah

Prakiraan Cuaca 24 April 2020, Cenderung Cerah Berawan

Tips dan Tiga Manfaat Berpuasa di Bulan Ramadhan Bagi Kesehatan Tubuh, Begini Penjelasan Ahli Gizi

Kawasan Pantai Kuta bak kembali di masa 70-an, begitu tutur salah seorang warga yang mengobrol dengan saya sembari menyruput segelas kopi di pinggir Jalan Pantai Kuta.

Perhotelan, restoran, pertokoan bisa dikatakan lebih 80 persen menutup aktivitasnya, beberapa diantaranya masih ada yang beroperasi untuk bertahan di masa pandemi ini, meskipun sangat sepi.

Tak bisa lagi bicara laba rugi.

Mungkin ungkapan peribahasa yang paling tepat diungkapkan adalah Hidup Segan Mati Pun Tak Mau.

Pegawai dari beberapa toko yang masih buka tetap menawar program dan menu usahanya di pinggir jalan, meski sangat jarang ada yang melintas, apalagi untuk berhenti.

Seorang penjual nasi bungkus bersepeda keliling mengeluh pendapatannya menurun drastis, dalam sehari bisa 200 bungkus nasi, praktis kali ini tak genap 30 bungkus nasi per hari yang laku terjual.

“Biasanya borongan, dari pegawai hotel, SPA, restaurant, wisatawan, kalau jam-jam makan siang pasti ke sini borongan,” kata ID (50) saat dijumpai Tribun bali di kawasan Legian, Bali di siang yang terik dan sepi itu.

Tak ada wajah wisatawan, tak ada perut lapar para pegawai hotel dan usaha lainnya di sepanjang jalan itu, hanya ada segelintir pekerja proyek yang menuntaskan pekerjaannya, beserta sejumlah ekor tupai yang berkeliaran naik turun di pepohonan.

Bali, kawasan Kuta – Legian baginya menjadi ladang penghasilan baginya sejak berjualan nasi bungkus medio tahun 2000.

Hasilnya ia gunakan untuk menafkahi istri dan kedua anaknya.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved