Corona di Bali
Setelah Dua Kali PCR, Ibu Hamil Keguguran di Gianyar Negatif Covid-19
Suami pasien keguguran menyebutkan penyebab istrinya mengalami keguguran tidak ada hubungannya sama sekali dengan covid-19.
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR – Di tengah kabar duka yang dialami keluarga AA, usai bayi dalam kandungan istrinya keguguran, terbersit kabar melegakan dari warga asal Kabuaten Gianyar itu.
Sebelumnya, istrinya sempat menjalani rapid test, hasilnya menunjukkan reaktif.
Namun setelah dua kali melakukan test polymerase chain reacktion (PCR) covid-19 di RSUP Sanglah, hasilnya negatif.
Suami pasien keguguran, AA pada Tribun Bali, Selasa (28/4/2020) mengungkapkan, berdasarkan keterangan tim medis, penyebab istrinya mengalami keguguran tidak ada hubungannya sama sekali dengan covid-19.
• Bupati Gianyar Puji Masker Ala Bali United, Warga Sangat Suka Dan Minta Lagi
• Setelah Menghilang Selama 7 Tahun, Domba Ini Jadi Gondrong dan Menggemaskan
• Izin Bongkar Tas & Dompet Milik Menteri BUMN Erick Thohir, Raffi Heran: Duitnya Ngga Ada Serinya
Sebab hasil PCR menunjukkan hasil negatif.
“Saat tes rapid memang menunjukkan reaktif, namun hasil itu tidak bisa menjadi patokan sesorang positif covid-19, karena tidak akurat. Patokan akuratnya adalah PCR, dan istri saya sudah menjalani test PCR sebanyak dua kali, hasilnya negatif,” ujar AA.
Adapun penyebab keguguran tersebut, kata dia, diduga akibat solutio placenta, dimana placenta berada di posisi belakang bayi.
Kehamilan dapat berisiko tinggi karena sebelumnya sudah dua kali melahirkan secara caesar.
Selain itu, kondisi ibu bayi yang mendadak hipertensi bisa memicu placenta terlepas.
• Soal & Jawaban Demam Puisi TVRI 28 April 2020 Untuk SD Kelas 4-6,Apa Makna Persahabatan Menurut Adi?
• Dinyatakan Sembuh dari Covid-19, Menhub Budi Karya Ucapkan Terima Kasih Atas Kerja Keras Tim Medis
“Itu yang dialami istri saya, dan dokter yang menangani memberikan informasi seperti itu,” tandasnya.
Kata dia, kondisi seperti ini tidak bisa diketahui secara cepat.
Terlebih lagi, akibat pandemi covid-19 ini, istrinya tidak bisa memeriksakan kehamilan sejak dua bulan ke rumah sakit yang biasa didatangi.
Kontrol terakhir, kata dia, dilakukan pada Februari tepatnya sebelum pemerintah mengeluarkan imbauan sosial distancing.
“Kontrol terakhir bulan Februari, setelah itu tidak sempat kontrol karena penetapan situasi darurat covid-19. Dokter yang biasa memeriksa kandungan istri saya juga mengimbau agar tidak ke rumah sakit jika tidak emergency,” ungkapnya.
AA juga mengungkapkan kronologis alasan istrinya harus menjalani rapid test, meskipun saat itu tidak menunjukkan gelaja covid-19.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ilustrasi-ibu-hamil3_20170729_142957.jpg)